Persahabatan yang begitu indah, rasanya seperti tangan yang selalu ringan bergandengan dan bahu yang selalu menjadi sandaran. Setiap hal yang tak pernah aku dapatkan, namun bersama mereka aku selalu mendapatkannya. Ya, sebuah senyum dan tawa yang selalu manis menghiasi kehidupan.
Bertahun-tahun kami saling mengenal. Bertahun-tahun kami selalu bersama. Setiap waktu, selalu ada kami dan kami. Setiap kesempatan itu, di mana pun, selalu ada kami dan kami. Ya, persahabatan itu sudah bagaikan satu keluarga.
Pernah, suatu ketika, saat malam tahun baru, kami pergi bersama. Sebagai sekawanan anak muda. Niatnya kami hanya ingin merayakan malam tahun baru itu sebagaimana anak-anak muda lainnya yang bersenang-ria menanti kembang api sambil meniup terompet di pusat kota Karawang. Kami berjalan sepanjang trotoar dengan perbekalan seadanya. Canda serta tawa mengiringi gerimis di malam itu. Hingga akhirnya kami tiba.
Kami berjalan ke sana-kemari, memandang keramaian serta hiruk pikuk yang terasa memadatkan pandangan kami. Namun tampak di raut wajah kami bertiga seperti kebingungan. Melihat hirup pikuk keramaian seakan membuat kami ingin muntah. Entahlah, mungkin memang karena kami yang tak menyukai keramaian.
Tak berapa lama, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Kaki kami yang mulai terasa lelah lantas kami memutuskan pulang dengan naik becak. Ya, kendaraan roda tiga itu; kami bertiga duduk di sana. Namun, karena kursi becak itu yang hanya cukup untuk dua orang maka akhirnya aku duduk di atas mereka, seperti anak kecil dalam pangkuan kakaknya. Ya, sampai akhirnya kami tiba di rumah...
....
Sahabat, rasanya masih banyak yang pernah kita lewati itu, yang mungkin masih kalian ingat. Hari-hari yang tiada henti disertai rasa kesetia-kawanan, yang takkan pernah dapat kulupa sepanjang hidupku.
....
Sahabat, kini semua berubah. Semua itu hanya menjadi kenangan. Hanya goresan tinta yang mungkin akan mengingatnya.
....
Sabahat... kini hanya cerita lama, yang mungkin takkan mampu menghapus semua rasa yang kini ada: dengan apa pun!
... untuk sahabat, hanya rindu dan sesal ini yang kini menjadi sahabatku.
[fh]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar