Saya pernah bertanya, "Tidak adakah Ilmu Untuk Sabar?"
Seorang alim ulama itu menjawab, sabar itu menahan diri dari hawa nafsu.
Seorang alim ulama itu menjawab, sabar itu menahan diri dari hawa nafsu.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Waktu itu, ketika saya belajar di pondok kecil di Cimanggu, Subang, di suatu yang cukup banyak dipenuhi orang dewasa maupun anak kecil yang menyair ilmu di sana, saya dipertemukan dengan seorang tua yang kemudian beliau menjadi guru saya. Sebut saja namanya Ajengan (Kyai). Beliau seringkali berkata, bahwa untuk sabar itu harus perih; untuk mendapatkan kesabaran itu harus diuji; dan untuk bisa sabar itu harus bisa menahan diri serta bertahan dari banyak rasa yang tidak menyenangkan. Belum sampai saya bertanya, beliau tiba-tiba saja menggertak seorang santri dengan ucapan yang saya rasa itu cukup kasar. Kemudian saya berpikir, sambil menunduk tanpa menoleh lagi sedikit pun kepada Ajengan yang sedang memasang muka garang, dalam hati saya bertanya: "Apa yang sebenarnya beliau lakukan saat sedang menguraikan makna kesabaran namun tiba-tiba saja beliau terlihat sama sekali tanpa kesabaran?"
Tentu saja kejadian tersebut membuat tanda tanya besar menggerogoti pikiran saya. Dalam dimensi makna yang berbeda, serta penelaahan yang semakin kabur tampaknya, saya justru malah memikirkan bentuk dari pada kesabaran itu sendiri: "Seperti apa kesabaran itu?" Dan, "Apakah seseorang yang tengah mengajarkan kesabaran lantas dia sendiri berlaku seakan tanpa kesabaran, itu dinilai benar?"
Orang awan seperti saya hanya dibuat bingung dengan ilmu semacam ini. Bahkan saya dibuat untuk berprasangka buruk ketika hendak berusaha mencari sesuatu makna namun justru malah sebaliknya, makna itu membelakangi kenyataannya. Bahkan sempat dalam hati berhasrat, ingin rasanya pergi dan mencari tempat lain yang bisa memuaskan dahaga saya yang haus nan kosong akan ilmu.
Kejadian yang terus saja berulang. Berhari-hari, berbulan-bulan, di mana keadaan yang selalu sama terjadi membuat hasrat saya semakin membuncah tinggi ingin tinggalkan tempat itu. Melihat seorang Ulama Terpandang yang seringkali marah dan mengeluarkan kata-kata kasarnya yang nampak sama sekali tiada sabarnya. Namun entah, saya masih ingin bertahan di sana. Atau mungkin karena keadaan saya pribadi yang memang sulit jika harus meninggalkan tempat itu, dan akhirnya saya betahan tinggal di sana bukan karena mendapatkan apa yang saya butuhkan melainkan karena lingkungannya yang begitu sangat kekeluargaan.
Sampai pada suatu ketika, saya mendengar kabar tentang perangai Ajengan dari warga sekitar, bahwa beliau memang seorang yang berilmu namun keras kepala dan kasar ucapnya. Yang lebih menyayat adalah di mana ketika saya mendengar melalui kabar seraya mendengar serta mendapat bukti nyata, ketika beliau berkata, "Hina semua manusia; manusia itu kotor dan manusia itu hanya membuat hina!"
Astaghfirullaah, bertaubat saya atas segala dosa dan kekhilafan saya. Sejak saat itu rasa benci saya terhadap Ajengan mulai menjadi; kekhawatiran semakin menyetubuhi bahwa tempat ini memanglah bukan tempat seperti katanya. Tempat yang konon dan memang seharusnya sebagai majlis ilmu dengan seorang ulamanya yang fasih dan alim, namun ternyata kotor sekotor manusia yang dianggapnya.
Akhirnya saya memutuskan untuk segera hengkang dan berlari. Beberapa teman pernah memaksaku bertahan, namun rasanya tidak mungkin saya tahan lagi karena saya tidak ingin membuang waktu percuma sementara saya tidak mendapat ilmu apa-apa. Saya tidak ingin terus dicontohi dengan perangai yang tidak benar sementara ucap ceramahnya yang selalui mengurai kebenaran. Karena yang saya tahu, ini pun kata Ajengan, bahwa apabila seseorang berkata namun tidak sama antara tingkah laku dengan lisannya maka inilah salah satu ciri dan sebagian tanda orang yang munafik.
Tidak akan saya dapat ilmu untuk sabar itu di tempat ini, melainkan hanya hati yang semakin yakin bahwa tidak ada ilmu untuk sabar!
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bagaimana mungkin seseorang yang mengajari tentang ilmu kebenaran namu sendirinya tidak memperlihatkan cermin yang baik dan malah bertingkah laku seakan mendustai ucapannya sendiri? Apakah ilmu untuk sabar itu memang tidak pernah ada, kecuali hanya anjuran-anjuran dan pengertian atas sabar dan kesabaran itu sendiri? Selanjutnya akan di bahas di Tidak Ada Ilmu Untuk Sabar (Bagian II).
[fh]
[fh]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar