20 Februari 2013

Tidak Ada Ilmu Untuk Sabar (Bagian II)

Selanjutnya di Tidak Ada Ilmu Untuk Sabar (Bagian II) >>
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seorang Ajengan, alim ulama, yang setiap harinya selalu mengajari hal-hal besar tentang kebenaran dan jalan yang lurus. Seorang ahli ilmu yang selalu berbicara tentang kehidupan dan kesabaran di depan banyak pencari ilmu; bagaimana ketika beliau menerangkan apa itu sabar dan bagaimana untuk sabar itu, namun justru ia sendiri berbuat jauh dari kesabaran. Itulah kenyataan yang sering saya lihat, yang sering saya rasakan pula.

Mana mungkin saya bisa berlama-lama di tempat ini, sementara bisik semakin menderu dan pandang semakin melihat nyata: kemunafikan itu nyata datang dari orang yang mengetahui akan hal-hal mengenai kemunafikan itu sendiri. Begitu dalam rasanya saya semakin yakin, bahwa mulut yang selalu mengajarkan tentang kebaikan itu nyatanya sama sekali tidak terdapat ajaran tersebut dalam dirinya.

Bagaimana mungkin bisa berkata mengenai kebenaran, sedangkan dirinya sendiri jauh dari perilaku yang dibenarkan? Bagaimana jadinya jika seseorang yang mengajarkan kebaikan namun ternyata ia sendiri malah berlaku sebaliknya? Dan apa mungkin seseorang mampu mengajarkan orang lain untuk berbuat baik, sementara ia sendiri tidak mampu mengajari dirinya terlebih dahulu dengan perbuatan dan lisan yang dibenarkan?

Hari-hari terus berlalu. Hanya tinggal menunggu waktu saja, saya akan segera meninggalkan tempat ini.

"Selamat tinggal, kawan," begitu yang mungkin akan saya ucapkan esok.

Singkat cerita, tak lama sehari sebelum saya hendak pergi, tepatnya ketika saya hendak mengutarakan niat saya untuk pergi, saya bertemu dengan sahabat Ajengan yang juga merupakan seorang ahli ilmu dan alim ulama. Mereka berjalan di halaman rumah Ajengan. Lalu sahabat Ajengan tersebut menatap dan mendekati saya, dan berkata:

"Tidak sedikit orang yang ingin berilmu, namun juga tidak banyak orang yang berilmu. Terlebih di akhir jaman, yang pada kenyataannya semua ilmu perlahan-lahan dicabut agar terpisah antara yang baik dengan yang buruk."

Sungguh, sama sekali saya tidak memahami ucapan tersebut. Beliau berlalu pergi. Tinggal aku yang masih di sana, di hadapan Ajengan. Hingga akhirnya saya berlalu pamit dan kembali ke dalam pondok.



Dan ketika hasrat ini telah berhasil menguasai diri untuk segera berlari, di sanalah saya menemukan letak kesabaran yang selama ini tidak mampu saya melihatnya dan bahkan memahaminya. Ya, seorang alim ulama yang tanpa pamrih, yang dengan ikhlas mengamalkan ilmunya di jalan Allah, menggambarkan suatu ujian yang sangat mungkin datang kepada setiap muridnya. Melalui banyak perlakuan yang selama itu saya anggap buruk, tersimpan kemuliaan yang mengajarkan untuk selalu siap menghadapi akhir jaman. Segala yang telah diperbuatnya merupakan pembelajaran hikmah akan pentingnya bertafakur (berpikir) dan merenungkan diri.

Pada kesempatan lain beliau menjelaskan, bahwa pada akhirnya manusia akan saling meninggikan diri; setiap manusia akan semakin tertarik dan takjub menatap kehidupan dan seisinya, yang mana kemudian mereka akan saling berlomba untuk mendapatkan pemahaman atas apa yang mereka anggap sebagai misteri pengetahuan yang baru terungkap atau bahkan yang mereka anggap sebagai satu penemuan baru di atas hal yang memang mereka bisa menciptakannya. Padahal, semua itu hanyalah sebagian saja. Dan mereka sebenarnya semakin bodoh ketika menilai dirinya mampu (pintar). Mereka akan semakin tidak tahu ketika mendalami satu akar saja tentang pengetahuan, di mana pokok dari pengetahuan tersebut yang memang sangatlah besar --hikmah yang amat tinggi yang tidak akan mampu dicapai oleh diri manusia kecuali atas kelebihan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang ma'sum. Dan ketika mereka (manusia) saling berlomba membodohi diri dengan kemampuan dan kelebihannya, maka pada saat itu pula perlahan sebagian manusia (ahli ilmu) diangkat derajatnya sehingga tertutup usia meninggalkan mereka yang masih hidup: Suatu tujuan Allah, di mana akhir jaman hanya akan dipenuhi oleh orang-orang yang keliru.

Demikian cerita saya mengenai Tidak Ada Ilmu Untuk Sabar yang dibagi menjadi dua bagian: Bagian Satu dan Bagian Dua. Di mana pada intinya bahwa kesabaran itu merupakan suatu landasan dan atau dasar yang harus dimiliki oleh setiap manusia dalam menjalani hidupnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa kesabaran itu tiada batasnya kecuali manusia itu sendiri yang seringkali khilaf atau bahkan keliru. Sebagaimana ayat di dalam Al-Qur'an yang menegaskan: "Maka di dalam kesulitan itu ada kemudahan, dan di dalam kesulitan itu terdapat kemudahan" (Al-Insyirah:5-6), bahwa hakikat hidup itu merupakan suatu perjalanan yang harus dilalui dengan melalui banyak hal (ujian: rintangan) sehingga mengharuskan setiap manusia untuk memiliki kesabaran jika menginginkan perjalanannya itu menjadi mudah dan indah.



[fh]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar