09 Maret 2013

Sajak Doa Orang Menyesal

Doa Orang Menyesal

Entah apa lagi yang harus kutuangkan di sini. Secangkir sajak telah sesak penuhi nikmat yang telah melaknat. Aku tak mau habiskan ini. Nikmat-nikmat itu sebagian banyak membuatku harus terlaknati...

Lebur tak lagi satu; sahabat, cinta, dan juga keluarga, entah (aku)... rasanya tak lagi ada. Bagai memuat doa-doa pasrah dalam gelisah nun jauh harap masih ingin terbitkan wajah. Namun aku hanya menepi, dan hanya menepi, berharap kembali jika telah sanggup kuganti mati.

Pisahi diri, aku pikir, sadari yang terjadi. Dari sekian jalan dalam muara penggalannya yang berfase, (meronta-ronta dalam sesal) enggan kubuat kembali ombak duri. Bagiku, cukup sudah bencana menimpa. Aku tak ingin lagi puasi diri dengan amuk birahi.

Cukuplah. Cukuplah saja aku pernah merasanya. Deru haru tak kebalkanku kecuali rindu. Ya, seperti perpisahan yang terjadi, yang terukir sebab kuasa birahi dan lupa diri, serta merta membuatku banyak kehilangan arti.

Namun kini, dimulai kali ini, sudah sepatutnya bak pengajar diri. Melihat! Merasai! Melihat apa yang pernah terjadi! Darah menjadi nanah di hidung hingga kini masih basah: berlumur resah, berikat pasrah, menjadi obat untuk tidak dulu menyerah! Meski hidup memang terlihat tak lagi memimpi mewah, setidaknya masih membentuk diri yang tak lepas bak tak berarwah.

Meski adanya....................
Dunia... Oh, Tuhan! Duniamu inikah juangku(?)
Kuingin Kau katakan, katakan bahwa kesempatan ini masih Kau berikan untukku!


Fariz Huzairi, di Jakarta, 8 Maret 2013

1 komentar: