Kumpulan sajak ini ditulis dengan meminjam keindahan bunga pagi yang tertelan senja untuk setangkai Teratai Berduri yang kehausan... Lembaran sajak indah untuk seseorang yang telah menjadi inspirasi bagi saya, dan selama itu pula atau bahkan hingga selamanya, saya harus menemukan kembali fajar pagi. Juga yang telah mengalirkan sederas siraman emosi untuk batin, untuk kehidupan yang lebih baik –bagian dari setiap sisi konsep kehidupan manusia, yang relatif tidak berubah-ubah: teguh dan solid! Ya, Perubahan! Itulah prase yang digunakan untuk menangkap sebagian besar tujuan tersebut. Sehingga ada dan diperlukannya konsistensi mawas diri. Konsistensi terhadap sebuah jalan: cita-cita dan masa depan. Konsistensi akan sebuah keputusan dan tindakan. Juga, Konsistensi dalam berkasih sayang; tidaklah mudah ketika harus menyelam tanpa dahulu harus menghela napas seraya memberikan udara bagi kehidupan sekitar. Karena tanpa konsistensi dalam mempertahankan cinta, tidaklah mungkin terciptanya kesetiaan itu.
...Untukmu, segores sastra tanpa nama... yang berduri, yang tajam, dan yang terkadang tertatih atau bagai teratai yang menusuk hati. Tiada lupa pun duka adanya kini, meski untaian cinta hanya tinggal teratai yang kering; tiada suka pun kiranya, meski sulit adanya namun tampak adanya bercahaya tatkala asam pahit tertera dalam kalam hingga bencana. Ya, bersama seribu tarian kejam dan pena, bersama nyanyian sajak lama juga rindu, segaris dan setitik yang berasal dari dalam kalbu, yang tak akan pernah layak untuk padam itu tak akan kubiarkan padam! Karena cinta, bagai teratai sajak yang selalu indah yang tumbuh dalam kalam –lalu dengan pena Tuhan menulis sajak: “Inilah Kalam Kehidupan,” setangkai pena yang dengan cinta dan kesetiaannya, juga rindu, seringkali terdapat menghiasi kalbu.
TENTANG MIMPI
Tentang mimpi dan apa yang aku miliki
Itu adalah jiwa-jiwa yang terbang di malam hari
Mencari apa yang belum ia temukan.
Tentang apa yang aku miliki
Hanyalah harapan untuk membawamu terbang bebas!
Bekasi, 2 Nopember 2007
Barangkali dulu saya harusnya mengucapkan dan melakukan: “Bukan karena cinta (wanita) senyum itu ada! Dan bukan karena wanita (cinta) lantas kesempurnaan hakiki dan kebahagiaan manusia itu mengalir deras adanya!” Dan barangkali memang seperti adanya, segalanya harus dipertimbangkan, agar ucapan tak melaknati dirinya sendiri, dan agar kebahagian sepertinya (itu) tetap berdiri:
Atau bagai bunga-bunga yang tumbuh penuh dengan anugerah, ia... yang membuat luluh lantas hati menyerah padanya, seraya merasa-mengucap bahagia, lalu menjelma aku bak Bidara gagah perkasa. Atau, seperti melati yang tertanam di kudapan abadi Sang Bidadari –ya, dialah memang yang memancarkan aura bidadari itu. Dan tentunya, agar kebahagiaan itu semakin nyata menjadi:
Tentang Mimpi dan hari kemarin
yang kini pagi telah membelahnya
Menjaga apa yang didapatkan.
Tentang hari ini yang aku lalui
Hanyalah langkahku untuk selalu menjagamu.
Bekasi, 13 Desember 2007
Atau tersipu ketika kukecup atas sementara waktu... seperti ini:
“Jika semua wanita adalah bidadari, maka engkaulah Sang Bunda Keindahan
yang melahirkan seribu bidadari serta menurunkan keindahannya.”
Sungguh, ini terasa amat hina jika cinta dapat diukur sesuatu yang ada di antara waktu dan harta! Dan sungguh ini terasa memilukan dalam malu saat cinta harus dilumuri dengan ambisi dan keinginan semata.
Bukankah sementara waktu dan masa itu, sementara kehidupan dan kehidupan setelah kematian, akan selalu ada dan ditumbuhi karena cinta, dan untuk cinta.
“Jika aku menangis, maka air mataku adalah
sebentuk cinta yang menjauhkanmu dari pahit dan kesedihan.
Dan jika aku terluka, maka darahku
tak lebih dari sekedar pengorbanan agar kau tetap bahagia jauh dari duka.”
Karawang, 4 Maret 2008
Seperti melayang namun tak terbang,
kau buat hidupku seakan jauh lebih berarti.
Dan dalam kesunyian yang sebelumnya kurasakan penat,
kau buat kedamaian di dalam hatiku.
Kau seakan menjadi auteur
kisah cintaku,
yang tak ternilai begitu indahnya.
Cinta, meski tak selamanya harus hidup bersama.
Dalam Lembaran "Teratai Sajak Berduri"
Fariz Huzairi,
di Jakarta, 6 Maret 2013
...Untukmu, segores sastra tanpa nama... yang berduri, yang tajam, dan yang terkadang tertatih atau bagai teratai yang menusuk hati. Tiada lupa pun duka adanya kini, meski untaian cinta hanya tinggal teratai yang kering; tiada suka pun kiranya, meski sulit adanya namun tampak adanya bercahaya tatkala asam pahit tertera dalam kalam hingga bencana. Ya, bersama seribu tarian kejam dan pena, bersama nyanyian sajak lama juga rindu, segaris dan setitik yang berasal dari dalam kalbu, yang tak akan pernah layak untuk padam itu tak akan kubiarkan padam! Karena cinta, bagai teratai sajak yang selalu indah yang tumbuh dalam kalam –lalu dengan pena Tuhan menulis sajak: “Inilah Kalam Kehidupan,” setangkai pena yang dengan cinta dan kesetiaannya, juga rindu, seringkali terdapat menghiasi kalbu.
TENTANG MIMPI
Tentang mimpi dan apa yang aku miliki
Itu adalah jiwa-jiwa yang terbang di malam hari
Mencari apa yang belum ia temukan.
Tentang apa yang aku miliki
Hanyalah harapan untuk membawamu terbang bebas!
Bekasi, 2 Nopember 2007
Barangkali dulu saya harusnya mengucapkan dan melakukan: “Bukan karena cinta (wanita) senyum itu ada! Dan bukan karena wanita (cinta) lantas kesempurnaan hakiki dan kebahagiaan manusia itu mengalir deras adanya!” Dan barangkali memang seperti adanya, segalanya harus dipertimbangkan, agar ucapan tak melaknati dirinya sendiri, dan agar kebahagian sepertinya (itu) tetap berdiri:
Atau bagai bunga-bunga yang tumbuh penuh dengan anugerah, ia... yang membuat luluh lantas hati menyerah padanya, seraya merasa-mengucap bahagia, lalu menjelma aku bak Bidara gagah perkasa. Atau, seperti melati yang tertanam di kudapan abadi Sang Bidadari –ya, dialah memang yang memancarkan aura bidadari itu. Dan tentunya, agar kebahagiaan itu semakin nyata menjadi:
Tentang Mimpi dan hari kemarin
yang kini pagi telah membelahnya
Menjaga apa yang didapatkan.
Tentang hari ini yang aku lalui
Hanyalah langkahku untuk selalu menjagamu.
Bekasi, 13 Desember 2007
Atau tersipu ketika kukecup atas sementara waktu... seperti ini:
“Jika semua wanita adalah bidadari, maka engkaulah Sang Bunda Keindahan
yang melahirkan seribu bidadari serta menurunkan keindahannya.”
Sungguh, ini terasa amat hina jika cinta dapat diukur sesuatu yang ada di antara waktu dan harta! Dan sungguh ini terasa memilukan dalam malu saat cinta harus dilumuri dengan ambisi dan keinginan semata.
Bukankah sementara waktu dan masa itu, sementara kehidupan dan kehidupan setelah kematian, akan selalu ada dan ditumbuhi karena cinta, dan untuk cinta.
“Jika aku menangis, maka air mataku adalah
sebentuk cinta yang menjauhkanmu dari pahit dan kesedihan.
Dan jika aku terluka, maka darahku
tak lebih dari sekedar pengorbanan agar kau tetap bahagia jauh dari duka.”
Karawang, 4 Maret 2008
Seperti melayang namun tak terbang,
kau buat hidupku seakan jauh lebih berarti.
Dan dalam kesunyian yang sebelumnya kurasakan penat,
kau buat kedamaian di dalam hatiku.
Kau seakan menjadi auteur
kisah cintaku,
yang tak ternilai begitu indahnya.
Cinta, meski tak selamanya harus hidup bersama.
Dalam Lembaran "Teratai Sajak Berduri"
Fariz Huzairi,
di Jakarta, 6 Maret 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar