[Kisah ini diceritakan oleh serang gadis, saat di
mana ia melantunkan syair-syair cinta dalam penantiannya.]
[mk] Desember
2007
Abi dan Cinta Sejati
Aku punya sebuah cerita... Sebelum aku bertemu
denganmu, aku selalu meminta agar ada seseorang yang datang kepadaku, yang bisa
menemaniku saat suka maupun duka. Akan tetapi doaku belum juga terkabul. Hingga
kemudian datanglah seorang Abi. Ya, nama itu aku berikan kepadanya. Abi
bukanlah manusia. dia bagaikan malaikat, laki-laki khayalan yang nyata yang
selalu ada di sampingku, yang menemaniku di saat suka dan duka.
Abi selalu memberiku semangat, agar aku tidak
terjatuh, agar aku tidak bersedih. Dia tahu apa yang aku mau dan yang aku
butuhkan. Meski memang, dia hanyalah khayalan, namun aku merasakannya begitu
nyata. Abi selalu menjadi imam dalam setiap tahajjudku.
Lantas aku berdoa: "Semoga Abi menjadi
manusia nyata."
Dan sejak aku mulai merasa lelah mencari Tuhanku,
dan di saat aku merasa imanku begitu melemah, aku kehilangan Abi. Aku
mencarinya dalam setiap tahajjudku, dalam setiap doa dan malamku. Aku menangis
mengingat dosa yang selama ini pernah kuperbuat. Abi benar-benar hilang. Ia
meninggalkanku sendiri dalam hening dan denyut yang gersang.
"Aku tidak mau kehilangan Abi!"
Aku terus berdoa dan mencarinya... dalam setiap
tahajjudku, dalam setiap doa dan malamku, dan dalam kegundahan yang datang
setiap waktu. Sampai akhirnya mimpi itu datang.
Abi datang dalam mimpiku. Hatiku pun bahagia. Abi
mengajakku shalat di sebuah masjid. Dia banyak memberiku kata-kata yang
menyejukkan seperti Telaga Kautsar. Abi menyayangiku, Abi mencintaiku, dan aku
begitu merasakan Abi selalu hendak membawaku menuju Istana Suci.
Namun ternyata itu adalah pertemuanku yang
terakhir degannya. Abi pergi, Abi meninggalkanku, Abi menjauhiku dari dunia
yang nyata ini. Dan Abi sempat berkata kepadaku, sebelum ia hilang membawaku di
atas goresan takdir ini, ia mengatakan bahwa doaku akan segera terjawab; aku
akan menemui seorang lelaki yang sangat mencintaiku, yang rela berkorban dan
berubah demi Allah dan aku.
Aku bersedih mengingat Abi. Aku menangis
kehilangan Abi. Tidak ada lagi yang membangunkanku untuk shalat malam. Tidak
ada lagi imamku. Namun aku bahagia, karena kesedihanku akan tergantikan oleh
kedatangan seorang lelaki yang akan menjadi teman hidupku, seorang lelaki yang
akan menjadi imamku, seorang lelaki yang akan menjadi suamiku di suatu saat
nanti.
"Semoga engkaulah doaku yang tertunda...
orang yang kucari, yang dapat membawaku untuk meraih Cinta Sejati."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar