17 Desember 2014

Langit Merah

Tatkala aku mengerti apa yang terjadi
Hutan-hutan terbakar dan bara api yang menghanguskan
Lebih banyak dari pada itu, dan mereka terus berlari
Dan lebih banyak dari mereka yang berlari serta saling menyalahkan

Tatkala aku mengerti apa yang terjadi
Kambing-kambing yang telah mati dan terkapar
Lebih banyak dari pada itu, sapi dan ayam pun telah terlanjur mati
Dan mungkin saja mereka hanya peduli pada lapar

Tatkala aku mengerti apa yang terjadi
Akan lebih banyak dari pada apa yang telah terjadi ini
Dan mereka menyadari, sesaat setelah mati
Tatkala langit merah dan Tuhan berkata: "Semua tak dapat diulang kembali!"



Fariz Huzairi
Jakarta, 17 Desember 2014

read more

13 April 2014

Drama Sebuah Rahasia

Sedih bukanlah pinta untuk meneteskan air mata
Karena terkadang laku lebih dari sebuah cerita
Seperti angin yang mengoyak apa yang ada di atas bumi
Atau yang besar, yang tak lebih kuat dari yang kecil

Apakah cerita itu tak pantas untuk dikisahkan?
Bukankah segala sesuatu yang ada telah hadapi takdirnya?
Kepercayaan, kesulitan, dan aroma kejahatan yang mulai merintih
Menjerit hati dalam senyum tangis dan tersembunyi

Karena hakekat pada terciptanya suatu hati:
Niat menjadi kunci bagaimana raga bertindak,
Keadilan selalu berdiri meski awalnya samar terkalahkan,
Dan kemalangan bukanlah hal yang diraih oleh kebaikan

Di sanalah rahasia itu kan berdiri
Di suatu pagi yang cerah matahari,
Di saat yang tidur pun terjaga, dan yang lupa
Kan kembali pada asalnya
read more

28 Agustus 2013

Mencari Keyakinan Setelah Kehilangan

Kelu tak bicara
Harap, sirna
Hanya pandangi apa yang terjadi

Dibingkai penyesalan atau entah kekecewaan
Diujung perjalanan temui kawanan:
Mereka tak berapi!
Mereka tak bertanah!
Mereka jelas tak bercahaya!

Aku pikir, lantas
apakah ini musibah atau bencana?
Akankah sesuatu yang hilang dapat kembali?

"Kau yakin?"
Sesuatu nampaknya bicara padaku,
"Sesuatu yang hilang tak akan pernah terganti?"

Ya, sampai pada waktu yang kita tahu,
Keyakinan bukanlah upeti!
Atau sama sekali hingga mati keyakinan tidak akan tumbuh!
read more

20 April 2013

Doa Untuk Ibu


Entahlah berapa lama lagi
Kuhitung tahun dan hari-hari kulalui
Gemerlapnya dunia hiburku sepi
Sepi, aku sendiri

Aku sendiri lelah menanti
Tuhan beri aku pinta
Tuhan beri aku segala
Tapi Tuhan selalu memberi

Sedang aku, selalu meminta
Sepintas lupa tak luput di hamba
Hamba...

Pinta dan doa...
Pinta adalah doa
Pinta adalah harapan
Cinta yang selalu merasa untuk hidup, dari Tuhan

Meski aku merintih,
Meski aku menangis,
Dan meski aku tanpanya, ku selalu memanggil namanya,
“Ibu... Semoga engkau selalu bersamaNya”



Jakarta, 20 April 2013
Fariz Huzairi
read more

10 Maret 2013

Ketika Hanya Takdir yang Menjawab

KETIKA HANYA TAKDIR YANG MENJAWAB

untuk mereka yang selalu bertanya, mengapa

hujan tak mau jatuh, meski rapuh
di langit ditikam kegelapan
dihitung resah tak juga terlukiskan
berat asa kami terjatuh

ladang-ladang kami kering, juga sumur
pun sungai menjadi penyakit
“Tuhan, di mana kuasa-Mu
dan jelaskan pada kami apa yang sedang Kau perbuat?”

akhirnya kami tak lagi bicara tentang apa yang terjadi,
sebab kami tak mengerti
dan kami tak lagi berusaha untuk apa yang kami
butuhkan, sebab kami semakin tak mengerti

diam-diam kami kali ini, dalam hilang
asa kepada-Mu:
“Tuhan, pengajarankah bagi kami
agar kami dapat mengerti?



fariz huzairi
read more

Sebelum Larut Malam Menjemputku

SEBELUM LARUT MALAM MENJEMPUTKU

Malam tak mau larut saat kugadaikan mimpi untuk menembusmu ke dalam pelukan. Seperti rindu yang tak juga surut, kau selalu masuk diwaktu sendiriku. Mendesir, bersemilir, bersemayam di dalam batinku. Satu rasa yang selalu kurasa saat getir musim hijau telah mati dan hilang adanya.

Maka kutuang kembali secangkir kenangan untuk menghilangkan kantukku. Secangkir harapan yang telah mati bercampur takdir Tuhan kini. Di lintas khayal dan di pesisir kenangan, disapu ombak(!); di pantai itu kini telah menjadi lautan yang tersapu laksana tsunami waktu itu!

“Inikah musim itu yang tak lagi menentu dan berubah sewaktu-waktu? Kematian beriring kematian dan dosa beriring dosa. Lalu bagai wajah yang tak tahu malu menikam sendi-sendi yang tak berdosa yang telah menilai-memberi harga. Dan apa yang pantas dikata untuk maaf yang tiada guna, jika hari-hari selalu sama baginya, tiada ubahnya?”

“Lain memang, tak mungkin berulang. Takdir mungkin, namun tak pasti selama Tuhan masih memberi. Karena kesempatan hidup memang satu kali, dan bukan mati jika masih bisa diusahakan untuk membenah diri.”

“Sesal memang tiada arti jika dirasai tanpa disesali. Disesali pun tiada ubah jika diri tak mampu untuk merubah. Kuasa memang milik Tuhan namun manusia diberi kesempatan untuk mengusahakan.”

Nasib. Kau kata kadang seolah sudah jalan. Takdir. Kau kata seakan semakin sudah terang. Kau rangkai cerita bak melodi di atas iringan perkusi yang tersembunyi. Kau berlabuh bak terjatuh terluka diri. Kau tikam semua janji dengan akhir tanpa awal. Dan kau lupakan siulan-siulan merdu yang pernah terjadi. Bahkan kau ubah emas menjadi duri!

Cinta, indahnya tak secantik pesonanya...

Namun kan kujaga nasihat-nasihat itu. Meski terpenggal kisah hitam menimpa diri, namun arti bukanlah sebagai penghias diri. Rasa cinta kan tetap ada meski sebatas doa dan penghapus dosa.

Untukmu, sepenggal rindu, sepenggal kawan jiwaku –yang telah lampau sebelum pahit, dan sebelum rasa sakit memisahkan jiwa dan ragaku, kan kujaga doa untuk masa yang tak pernah kita tahu.



Fariz Huzairi, di Jakarta, 10 Maret 2013
read more

09 Maret 2013

Sajak Doa Orang Menyesal

Doa Orang Menyesal

Entah apa lagi yang harus kutuangkan di sini. Secangkir sajak telah sesak penuhi nikmat yang telah melaknat. Aku tak mau habiskan ini. Nikmat-nikmat itu sebagian banyak membuatku harus terlaknati...

Lebur tak lagi satu; sahabat, cinta, dan juga keluarga, entah (aku)... rasanya tak lagi ada. Bagai memuat doa-doa pasrah dalam gelisah nun jauh harap masih ingin terbitkan wajah. Namun aku hanya menepi, dan hanya menepi, berharap kembali jika telah sanggup kuganti mati.

Pisahi diri, aku pikir, sadari yang terjadi. Dari sekian jalan dalam muara penggalannya yang berfase, (meronta-ronta dalam sesal) enggan kubuat kembali ombak duri. Bagiku, cukup sudah bencana menimpa. Aku tak ingin lagi puasi diri dengan amuk birahi.

Cukuplah. Cukuplah saja aku pernah merasanya. Deru haru tak kebalkanku kecuali rindu. Ya, seperti perpisahan yang terjadi, yang terukir sebab kuasa birahi dan lupa diri, serta merta membuatku banyak kehilangan arti.

Namun kini, dimulai kali ini, sudah sepatutnya bak pengajar diri. Melihat! Merasai! Melihat apa yang pernah terjadi! Darah menjadi nanah di hidung hingga kini masih basah: berlumur resah, berikat pasrah, menjadi obat untuk tidak dulu menyerah! Meski hidup memang terlihat tak lagi memimpi mewah, setidaknya masih membentuk diri yang tak lepas bak tak berarwah.

Meski adanya....................
Dunia... Oh, Tuhan! Duniamu inikah juangku(?)
Kuingin Kau katakan, katakan bahwa kesempatan ini masih Kau berikan untukku!


Fariz Huzairi, di Jakarta, 8 Maret 2013
read more

08 Maret 2013

Sajak Putih Karya Chairil Anwar *versi SS

Sajak
Aku Ini Binatang Jalang, Jakarta: Gramedia, 2012


SAJAK PUTIH

buat tunanganku, Mirat

bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutera senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda

sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah...

Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku...


puisi karya Chairil Anwar

(versi Surat-surat 1943-1983)
Sumber Acuan: "Aku Ini Binatang Jalang" Editor: Pamusuk Eneste
read more

07 Maret 2013

Kepingan Sajak Chairil Anwar | Gejolak 1943

Sajak #1:
DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sesudah itu mati

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan Api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda

Sungguh pun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.

Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.





Sajak #2:
SUARA MALAM

Dunia badai dan topan
Manusia mengingatkan “Kebakaran di Hutan”
Jadi ke mana
Untuk damai dan reda?
Mati.
Barangkali ini diam kaku saja
dengan ketenangan selama bersatu
mengatasi suka dan duka
kekebalan terhadap debu dan nafsu.
Berbaring tak sedar
Seperti kapal pecah di lautan
jemu dipukul ombak besar.
Atau ini.
Peleburan dalam tiada
dan sekali akan menghadap cahaya.
..............................................................
Ya Allah! Badanku terbakar—segala samar.
Aku sudah melewati batas.
Kembali? Pintu tertutup dengan keras.





Sajak #3:
AKU

Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang-menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.





Sajak #4:
HUKUM

Saban sore ia lalu depan rumahku
Dalam baju tebal abu-abu

Seorang jerih memikul. Banyak menangkis pukul.

Bungkuk jalannya – Lesu
Pucat mukanya – Lesu

Orang menyebut satu nama jaya
Mengingat kerjanya dan jasa

Melecut supaya ini padanya

Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga

Pekik di angkasa: Perwira muda
Pagi ini menyinar lain masa

Nanti, kau dinanti-dimengerti!





Sajak #5:
KESABARAN

Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing menggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Di sebelahnya api dan abu

Aku hendak berbicara
Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah! tidak jadi apa-apa!
Ini dunia enggan disapa, ambil peduli

Keras membeku air kali
Dan hidup bukan hidup lagi

Kuulangi yang dulu kembali
Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang mesti tiba





Sajak #6:
CERITA

kepada Darmawidjaja

Di pasar baru mereka
Lalu mengada-menggaya.

Mengikat sudah kesal
Tak tahu apa dibuat

Jiwa satu teman lucu
Dalam hidup, dalam tuju.

Gundul diselimuti tebal
Sama segala berbuat-buat.

Tapi kadang pula dapat
Ini renggang terus terapat.





Sajak #7:
DI MESJID

Kuseru saja Dia
Sehingga datang juga

Kami pun bermuka-muka.

Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada.
Segala daya memadamkannya

Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda

Ini ruang
Gelanggang kami berperang

Binasa-membinasa
Satu menista lain gila.





Sajak #8:
DENDAM

Berdiri tersentak
Dari mimpi aku bengis dielak

Aku tegak
Bulan bersinar sedikit tak nampak

Tangan meraba ke bawah bantalku
Keris berkarat kugenggam di hulu

Bulan bersinar sedikit tak nampak

Aku mencari
Mendadak mati kuhendak berbekas di jari

Aku mencari
Diri tercerai dari hati

Bulan bersinar sedikit tak tampak





Sajak #9:
JANGAN KITA DI SINI BERHENTI

Jangan kita di sini berhenti
Tuaknya tua, sedikit pula
Sedang kita mau berkendi-kendi
Terus, terus dulu...!!

Ke ruang di mana botol tuak untuk banyak berbaris
Pelayannya kita dilayani gadis-gadis
O, bibir merah, sastra indonesia modern
O, hidup, kau masih ketawa??





Sajak #10:
1943

Racun berada direguk pertama
Membusuk rabu terasa di dada
Tenggelam darah dalam nanah
Malam kelam-membelam
Jalan kaku-lurus. Putus
Candu.
Tumbang
Tanganku menadah patah
Luluh
Terbenam
Hilang
Lumpuh.
Lahir
Tegak
Berderak
Rubuh
Runtuh
Mengaum. Mengguruh
Menentang. Menyerang
Kuning
Merah
Hitam
Kering
Tandas
Rata
Rata
Rata
Dunia
Kau
Aku
Terpaku.





Sajak #11:
ISA

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh
patah

mendampar tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah

terbayang terang di mata masa
bertukar rupa iini segara

mengatup luka

aku bersuka

Ini Tubuh
mengucur darah
mengucur darah





Sajak #12:
DOA

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling




Sumber Acuan:
"Aku Ini Binatang jalang"
"Deru Campur Debu"
"Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus"


koleksi sajak chairil anwar
koleksi buku sastraberduri.com












Koleksi Karya Sastra | Sastra Berduri | Jakarta, 7 Maret 2013
Bagian 1: “Kepingan Sajak Chairil Anwar | Gejolak 1943
read more

06 Maret 2013

Teratai Sajak Berduri

Kumpulan sajak ini ditulis dengan meminjam keindahan bunga pagi yang tertelan senja untuk setangkai Teratai Berduri yang kehausan... Lembaran sajak indah untuk seseorang yang telah menjadi inspirasi bagi saya, dan selama itu pula atau bahkan hingga selamanya, saya harus menemukan kembali fajar pagi. Juga yang telah mengalirkan sederas siraman emosi untuk batin, untuk kehidupan yang lebih baik –bagian dari setiap sisi konsep kehidupan manusia, yang relatif tidak berubah-ubah: teguh dan solid! Ya, Perubahan! Itulah prase yang digunakan untuk menangkap sebagian besar tujuan tersebut. Sehingga ada dan diperlukannya konsistensi mawas diri. Konsistensi terhadap sebuah jalan: cita-cita dan masa depan. Konsistensi akan sebuah keputusan dan tindakan. Juga, Konsistensi dalam berkasih sayang; tidaklah mudah ketika harus menyelam tanpa dahulu harus menghela napas seraya memberikan udara bagi kehidupan sekitar. Karena tanpa konsistensi dalam mempertahankan cinta, tidaklah mungkin terciptanya kesetiaan itu.

...Untukmu, segores sastra tanpa nama... yang berduri, yang tajam, dan yang terkadang tertatih atau bagai teratai yang menusuk hati. Tiada lupa pun duka adanya kini, meski untaian cinta hanya tinggal teratai yang kering; tiada suka pun kiranya, meski sulit adanya namun tampak adanya bercahaya tatkala asam pahit tertera dalam kalam hingga bencana. Ya, bersama seribu tarian kejam dan pena, bersama nyanyian sajak lama juga rindu, segaris dan setitik yang berasal dari dalam kalbu, yang tak akan pernah layak untuk padam itu tak akan kubiarkan padam! Karena cinta, bagai teratai sajak yang selalu indah yang tumbuh dalam kalam –lalu dengan pena Tuhan menulis sajak: “Inilah Kalam Kehidupan,” setangkai pena yang dengan cinta dan kesetiaannya, juga rindu, seringkali terdapat menghiasi kalbu.



TENTANG MIMPI

Tentang mimpi dan apa yang aku miliki
Itu adalah jiwa-jiwa yang terbang di malam hari
Mencari apa yang belum ia temukan.
Tentang apa yang aku miliki
Hanyalah harapan untuk membawamu terbang bebas!

Bekasi, 2 Nopember 2007


Barangkali dulu saya harusnya mengucapkan dan melakukan: “Bukan karena cinta (wanita) senyum itu ada! Dan bukan karena wanita (cinta) lantas kesempurnaan hakiki dan kebahagiaan manusia itu mengalir deras adanya!” Dan barangkali memang seperti adanya, segalanya harus dipertimbangkan, agar ucapan tak melaknati dirinya sendiri, dan agar kebahagian sepertinya (itu) tetap berdiri:

Atau bagai bunga-bunga yang tumbuh penuh dengan anugerah, ia... yang membuat luluh lantas hati menyerah padanya, seraya merasa-mengucap bahagia, lalu menjelma aku bak Bidara gagah perkasa. Atau, seperti melati yang tertanam di kudapan abadi Sang Bidadari –ya, dialah memang yang memancarkan aura bidadari itu. Dan tentunya, agar kebahagiaan itu semakin nyata menjadi:

Tentang Mimpi dan hari kemarin
yang kini pagi telah membelahnya
Menjaga apa yang didapatkan.
Tentang hari ini yang aku lalui
Hanyalah langkahku untuk selalu menjagamu.

Bekasi, 13 Desember 2007



Atau tersipu ketika kukecup atas sementara waktu... seperti ini:
“Jika semua wanita adalah bidadari, maka engkaulah Sang Bunda Keindahan
yang melahirkan seribu bidadari serta menurunkan keindahannya.”

Sungguh, ini terasa amat hina jika cinta dapat diukur sesuatu yang ada di antara waktu dan harta! Dan sungguh ini terasa memilukan dalam malu saat cinta harus dilumuri dengan ambisi dan keinginan semata.

Bukankah sementara waktu dan masa itu, sementara kehidupan dan kehidupan setelah kematian, akan selalu ada dan ditumbuhi karena cinta, dan untuk cinta.

“Jika aku menangis, maka air mataku adalah
sebentuk cinta yang menjauhkanmu dari pahit dan kesedihan.
Dan jika aku terluka, maka darahku
tak lebih dari sekedar pengorbanan agar kau tetap bahagia jauh dari duka.”

Karawang, 4 Maret 2008



Seperti melayang namun tak terbang,
kau buat hidupku seakan jauh lebih berarti.
Dan dalam kesunyian yang sebelumnya kurasakan penat,
kau buat kedamaian di dalam hatiku.
Kau seakan menjadi auteur
kisah cintaku,
yang tak ternilai begitu indahnya.


Cinta, meski tak selamanya harus hidup bersama.


Dalam Lembaran "Teratai Sajak Berduri"
Fariz Huzairi,
di Jakarta, 6 Maret 2013
read more

25 Februari 2013

Puisi Cinta Untuk Ibu

Puisi Cinta Untuk Ibu

Tertegun ingatan saat kubuka halaman diariku
Ada setitik pahit yang kubaca, saat kuraba, hingga kemudian terpikir masa laluku
sedalam kalbu
Menyeruat, menyulap beringas hinggapkan getir pedih masa kelamku

Namun rintihan melodi kehidupan menawanku dari keterbebasan hasrat
yang tampak nyaris keterbatasan pun melekat, seolah tak lagi berdawai semangat
Kudekap pedih semakin sakit, kutahan rindu pun semakin pilu,
hingga kubiarkan namun rasanya tak sanggup  kulewati hari hingga berlalu

Ibu... semakin pedih aku,
....

Kesadaran pun tak merubah selain kehadiran yang masih dicitakan
Kesadaran pun tak merubah selain penyesalan dan pengharapan
Dan kesadaran pun, seperti anjing serigala yang melolong di malam pesta perkawinan

Lantas dalam maya kumencarimu
sepenggal nama yang mungkin dapat kutemukan di sana
yang berharap, sepenggal kabar kurasai sejukan hati meski selama mengingatnya

Hingga pada malam kemudian selira menyerah dan berdoa
Selira pasrah dalam lemah tak berdaya
Dan selira memohon ampunan kepada Sang Pencipta

Ibu... semakin menyesal aku,
....

Seharusnya akulah anakmu, yang berdiri tegak tanpa sesak
Yang runcing melawan keras kehidupan seiring memuncak
Mengubur hina mengumbar bangga, bukan malah menggores laknat!
Bukan aku malah mendawai larat!

Ibu, semakin tertegun saat kubaca halaman itu
Saat terbayang engkau masih bersamaku
Dalam satu ruang yang satu
Hingga tetes kini laksa menoreh azab siksaku



Oleh: Fariz Huzairi, di Jakarta, 25 Februari 2013,
dalam coretan sastra Puisi Cinta Untuk Ibu.
read more

24 Februari 2013

Untuk Cinta Dengan Doa

Antologi Puisi. Antologi Sastra Berduri, “Untuk Cinta Dengan Doa
Sebuah goresan pena klasik yang menjerit, sebagai antologi kehidupan dalam diri yang terlantun menjadi sebua syair berbentuk puisi.


“Untuk Cinta Dengan Doa”

Terkadang rindu menjadi ombak
yang menghalauku di saat lajuku,
juga rinduku.
--
“Untukmu... rinduku yang sampai detik ini
masih belum aku mengetahuinya.”
--
Kesempurnaan itu masih saja selalu terlintas dalam benak, juga penat
Seperti menggiringku ke suatu tempat
yang entah,
yang entah membuatku rasanya selalu takut dan gelisah,
yang membuatku pada akhirnya harus memikirkan semua itu di sana.
Ya, di malamku yang selalu dipenuhi sunyi menanti rasa-nya.

Demikian syair lagu indah, membuat cinta memahkotai sang Insan akan pesona keindahan
Atau seperti denting hujan di kala bintang dan rembulan
menghiasi ketulusan dua insan di syurga yang saling mencinta.

Rasa di rasanya. Aku tak pernah tahu, karena di rasaku,
sepertinya yang ada masih hanya akan selalu gelisah
Dan di rasaku, yang aku tahu rasanya seperti taburan debu yang menghantam ombak,
yang kemudian hilang,
lenyap,
atau seperti pohon
yang patah,
atau kering,
atau bahkan yang tandus,
yang akarnya tak mungkin lagi menyempurnakan kehidupan seperti sebelumnya.

Seperti rindu itu, doaku,
juga seperti doa itu
Untuk cinta,
untuk satu cinta yang masih juga belum aku tahu
di mana akhirnya aku kan berlabuh dengan setia...


Oleh: Fariz Huzairi, di Jakarta, 24 Februari 2013.
Antologi Puisi Sastra Berduri,  “Untuk Cinta Dengan Doa” merupakan ranngkaian puisi "Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia" dalam kumpulan puisi Sastra Berduri.
read more

23 Februari 2013

Memahami Sastra Indonesia

Sastra Indonesia, sebuah identitas karya sastra untuk segala macam sastra dan kesusastraan yang tumbuh dan berkembang di Asia Tenggara. Berikut penjelasan singkatnya mengenai Pemahaman Sastra Indonesia berdasarkan pengertian dan perkembangannya.

Memahami pengertian Sastra Indonesia, sebagai salah satu penalaran pokok yang dilakukan sastrawan maupun seniman sastra itu sendiri terhadap karya sastra pada umumnya. Sastra Indonesia itu sendiri merupakan sebuah istilah untuk berbagai macam karya sastra berbahasa melayu yang umumnya merujuk pada macam sastra di Asia Tenggara.  Istilah “Indonesia” mengandung makna yang lebih mengkhususkan pada lingkup karya sastra yang berada di wilayah Kepulauan Indonesia, yang secara geografis dan perkembangannya identik dengan adat, kebudayaan serta perkembangan masyarakat di Indonesia.

Secara bahasa, Sastra Indonesia sebenarnya merupakan suatu karya sastra yang dihasilkan dan diciptakan berdasarkan perkembangan kebudayaan dan kehidupan masyarakat di Indonesia, yang lebih menekan-khususkan pengertiannya untuk segala macam karya sastra yang berkembang di Indonesia saja. Namun, jika diartikan berdasarkan perkembangannya dewasa ini --setelah mendapat pengaruh berdasarkan kebudayaan dan urutan waktu pada jamannya, “Sastra Indonesia” memiliki makna yang lebih dispesifikasi, yakni suatu karya sastra yang mencakup segala macam sastra baik lisan maupun tulisan berdasarkan kehidupan masyarakat dan perkembangan budaya keindonesiaan.


Pengaruh dan Perkembangan Sastra di Indonesia Dewasa Ini.
Dalam kasus ini, di mana setiap karya sastra baru yang tumbuh dan peka terhadap jaman terutama pengaruh modernisai, masih memiliki interpretasi yang tinggi yang terkandung pada nilainya (sastra) namun lebih meluas alurnya pada kebudayaan dan bangsa Indonesia yang didominasi oleh substansi sastra dengan pengaruh kebudayaan asing yang merasuk. Sehingga pemahamannya pun, yang menitik-beratkan pada substansi pokok kandungannya sebagai manifestasi karya sastra, telah mengejawantah dan tumbuh mengakar pada kehidupan bermasyarakat masyarakat indonesia sebagai alinea sastra baru atau sastra modern. Inilah penyebabnya mengapa sastra selalu memiliki pengertian atau makna yang variabel, baik pengertian sastra pada umumnya maupun kesusastraan (sastrawi) sebagai substansi dasar penciptaannya segala macam karya sastra, yang pengaruhnya terdapat pada isi karya sastra itu sendiri.


Sumber dan Inspirasi:
Alhamdulillah, akhirnya saya ucapkan terima kasih kepada Wikipedia [Sastra Indonesia], Asem Manis [Dunia Bahasa dan Sastra Indonesia], dan beberapa teman blogging lainnya yang (mohon maaf) tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Saya ucapkan terima kasih banyak karena telah memberikan inspirasi dan bahan untuk catatan singkat Memahami Sastra Sebagai “Sastra Indonesia” sebagai bentuk ungkapan serta wujud kecintaan saya terhadap Sastra Indonesia.
read more

22 Februari 2013

Sastra Sebagai Kebebasan Dalam Berfilsafat

sastra sebagai kebebasan dalam berfilsafat
[image cropped from google]
Sastra sebagai kebebasan dalam berfilsafat. Ini yang tampaknya seringkali terlupakan, bahwa pada hakikatnya sastra berasal dari suatu jalan pemikiran dan proses refleksi di mana kehidupan dan manusia yang menjadi objeknya. Sehingga kemudian terciptanya suatu karya (cipta), baik lisan maupun tulisan, yang di dalamnya terkandung suatu pemikiran atas pencitraan dan  penggambaran alam kehidupan yang dituangkannya ke dalam suatu karya. Maka menjadi lazim, jika di dalam setiap karya sastra selalu terkandung ide-ide dasar serta sudut pandang yang jika diungkap terdapat adanya suatu pemikiran filsafati sebagai ide (konsep) dasar penciptanya.

Dan meski memiliki perbedaan yang signifikan di antara keduanya, sastra dan filsafat tidak akan pernah terpisahkan.


Sastra yang merupakan suatu karya, baik lisan maupun tulisan, yang diciptakan berdasarkan daya akal (kemampuan nalar) dalam menalarkan pengalaman sebagai interpretasi atas jalan pemikirannya, entah bersifat khayali maupun fakta. Sebagaimana yang didefinisikan oleh Plato: bahwa “Sastra merupakan hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan. Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide.”

Plato yang menegaskan bahwa nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide, dikarenakan sastra memang bukanlah gagasan utuh melainkan pengungkapan atau pencitraan yang dilakukan si pencipta mengenai objeknya, yakni alam kehidupan. Begitu pula dengan yang diungkapkan oleh Supardi: bahwa “Sastra merupakan lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial.” Sehingga nampaklah pengertian yang mendefinisikan sastra, di mana ada daya akal (nalar) yang berfungsi untuk menjalankan suatu proses pengaitan antara kenyataan dan pencitraan (gambaran) yang dilatarbelakangi oleh gagasan pokok (ide dan sudut pandang filsafati) pada suatu karya yang juga berlandaskan pada alam kehidupan dan manusia sebagai objeknya.

Sedangkan filsafat, merupakan suatu usaha pemikiran yang bersifat radikal dengan unsur-unsur keutuhan objeknya yang luas (yang ada dan yang mungkin ada) yang mana bertujuan untuk mengungkap segala hakikat dengan hakiki. Filsafat tidak mengindahkan nilai-nilai estetika sebagaimana yang terdapat pada karya sastra. Bahkan filsafat tidak memandangnya ada (nilai estetika tersebut) ketika sesuatu yang hakiki yang menjadi dasar tujuan dalam menemukan pemahaman tertentu yang hakiki. Sehingga akhirnya estetika itu sendiri kemudian menjadi satu pandangan khusus (bidang ilmu) yang dicari kehakikiannya.

Banyak filosof-filosof yang mendefinisikan filsafat secara maknawi yang mana pada hakikatnya filsafat itu sendiri menjadi suatu bagian pokok bagi semua ilmu yang dilahirkannya kemudian.

Dan jelaslah pula, bahwasannya sastra dan filsafat merupakan dua hal yang berbeda namun tak dapat dipisahkan. “Ibarat dua sisi mata uang, di mana yang satu tidak dapat dipisahkan dari permukaan lainnya; di mana sifatnya yang komplementer, saling melengkapi,” begitu kata Maman S. Mahyana, dalam artikelnya yang berjudul Hubungan Sastra dan Filsafat.

Namun, jika ditilik berdasarkan nilainya, tentu saja tidak bisa disamakan pula, di mana seorang seniman sastra maupun sastrawan yang membatasi radikalistisnya dengan menahan diri pada pengambilan sub-ide atas ide (konsep manusiawi) yang terbentuk berdasarkan pengalaman dan kemampuan nalarnya untuk segera dilakukan pengambilan kesimpulan berupa pengungkapan, pencitraan dan sebagainya. Adapun seorang filosof sudah tentu dia akan mendapati dirinya menjadi seorang seniman sastra atau bahkan sastrawan ketika di mana ia harus menuangkan hasil pemikiran radikalnya (ide) ke dalam bahasa maupun tulisan, atau bahkan di saat ia harus menelusuri makna hakiki tentang sastra itu tersebut beserta segenap cabang ilmu di dalamnya, sedangkan sifat pemikirannya yang radikalistis (filosofis) tidak akan lepas selama membentangkan makna filosofisnya sedalam dan seakurat mungkin, yakni sampai pada menghasilkan satu kebenaran yang bisa dibenarkan.


Kesadaran seseorang dalam menuliskan suatu karya sastra maupun karya tulis umumnya, sangat menentukan untuk menunjang kebutuhan tujuannya itu sendiri; di mana nalar menjadi dasar dan daya pikir (pengaitan, penerapan, pencitraan) menjadi unsur sehingga terciptanya kualitas yang dapat diukur dengan logika dan rasio. Dan karena itu pula, maka mulai dari karya sastra (sastra) hingga seorang sastrawan sekalipun, mereka adalah seorang filosofis yang menumpahkan idenya ke dalam bahasa lisan maupun tulisan. Ide yang pada awalnya berasal dari proses refleksi atas kehidupan dan manusia sebagai objek vitalnya, lalu kemudian menjadi suatu alur yang dialiri seni sehingga terciptalah sebuah karya sastra yang telah mengandung sudut pandangan dan karakter si pembuatnya.

Itulah yang pada akhirnya mampu membawa realitas ini menuju kehidupan besar. Sebuah pemikiran yang jenius. Sebuah radikalisme yang tumbuh di bawah logika dan rasionalisme yang tinggi, sehingga segala sesuatunya selalu mendasar dan bertujuan untuk saling melengkapi. Melalui pemikiran yang filosofis itulah, kehidupan akan menjadi seni yang memukai bagai karya seni seniman sastra, di mana telah ditemukan di dalamnya sastra sebagai kebebasan dalam berfilsafat.
read more

21 Februari 2013

Hancurnya Kehidupan Perdamaian Manusia

Kehidupan perdamaian manusia tengah terusik dan mengalami kehancuran. Ketidakseimbangan hidup telah menimbulkan pertentangan antar golongan tertentu. Sebagai bukti kekerasan yang terjadi dengan mengatasnamakan Islam, sehingga kontroversi disetiap kalangan memicu terjadinya kerusuhan yang semakin serius. Seperti yang dikutip dalam majalah Muslimah edisi 09 tahun 2003, hingga pada akhirnya Islam disalah mengerti karena selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah oleh musuh-musuh Islam, dan terkadang orang Islam sendiri yang tidak memahami Islam.

    Hancurnya kehidupan perdamaian manusia tersebut disebabkan oleh manusia itu sendiri. Berawal dari individu yang kemudian berdampak pada lingkungan. Lemahnya keyakinan terhadap Tuhan menjadi alasan tepat, sehingga kehidupan antar sesama menjadi persaingan kotor demi mendapatkan kejayaan dan keuntungan bagi diri sendiri.

    Menurut ulama Sufi jaman dahulu, kerusuhan di dunia ini terjadi disebabkan oleh dua keadaan. Pertama, karena manusia itu tidak percaya adanya Tuhan. Kedua, karena manusia itu terlalu mencintai dirinya sendiri. Bagaimana seseorang dapat mencintai agamanya, sedangkan ia tidak mengerti dan tidak memahami agamanya. Begitu pula dengan seseorang yang tidak memiliki keyakinan terhadap Tuhan, mana mungkin ia dapat mengenali Tuhannya dengan baik. Jika sudah demikian, manusia itu tidak akan patuh dan tidak akan takut terhadap perintah-perintah dan larangan-larangan Tuhan.

    Sedangkan sebab yang kedua mengakibatkan manusia itu menjadi serakah, mencintai harta yang berlimpah, mencintai kedudukan yang tinggi, mencintai nama yang harum dan masyhur, mencintai anak isteri yang berlebih-lebihan, dan bahkan menjadikan manusia di sekitarnya sebagai lawan saing yang harus ditumbangkan. Hal demikian membawa manusia kepada kecintaan yang sangat kepada dunia dan ingin hidup kekal di dalamnya. Padahal, setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati.

    Kesenangan yang mereka rasakan tidak akan berlangsung lama. Segala yang mereka cintai tidak akan membawanya kepada kebahagiaan hakiki. Sebagaimana firman Allah swt., “Katakanlah, kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat lebih baik untuk orang-orang bertakwa.” (QS. An-Nisaa`: 77)
    Dan firman Allah swt., “Dan tiadalah kehidupan di dunia ini hanya permainan dan senda gurau belaka, dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS. Al-An`aam: 32)

    Dalam surat Al-Hasyr ayat 18, Allah swt. juga berfirman, “Dan hendaklah setiap diri (seseorang) memperhatikan apa yang dipersiapkan untuk hari esok.” Maksudnya, hendaknya setiap orang memperhatikan apa yang diperbuatnya itu, bermanfaat ataukah tidak. Sebagai investasi untuk hari yang akan datang, yaitu akhirat.

    Namun, kebanyakan manusia itu sibuk menumpuk harta, padahal hartanya tersebut tidak akan dibawanya ketika meninggal. Atau, ada juga yang sibuk berlomba-lomba mengejar kedudukan yang tinggi. Padahal, belum tentu juga apa yang dikejarnya itu dapat memberinya kebahagiaan di akhirat kelak.

    Hati dan pikiran mereka telah digelapkan oleh hawa nafsu. Sedangkan, kecintaannya kepada dunia yang berlebih-lebihan itu membuatnya melupakan akhirat dan selalu sibuk dengan urusan duniawi. Mereka pun menjadi tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram. Penyakit hatinya tersebut terus menggerogoti dan menyeretnya kepada kekufuran kepada Allah Swt. Padahal, matinya hati adalah lebih keji dan celaka daripada matinya jiwa manusia yang tak lepas dari dosa.

    Imam Al-Ghazali berkata dalam kitab Mukhasyafatul Qulub, “Sesungguhnya hawa nafsu yang mengarahkan manusia kepada kejahatan, dan ia lebih jahat daripada iblis”. Karena, hawa nafsu yang dijadikan sebagai senjata oleh setan itu hanyalah menipu manusia dengan angan-angan kosong dan kesenangan sesaat, yang akhirnya menjerumuskan manusia kepada kesesatan.

    Tidak ada lagi solidaritas terhadap sesama, hilangnya rasa saling menghargai antar sesama manusia, dan lenyapnya rasa cinta dan persaudaraan kepada sesama. Lebih dari itu, hancurnya suatu bangsa akibat dari rusaknya akhlak dan moral manusia itu sendiri. Sehingga dampaknya dirasakan pula oleh semua orang, baik disadari ataupun tidak.

    Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan bodoh”. (QS. Al-Ahzab: 72). Kezhaliman manusia yang tiada lain hanyalah menzhalimi dirinya sendiri. Sebab, setiap apa yang diperbuat manusia hanyalah untuk manusia itu sendiri, baik amal yang baik maupun amal yang buruk. Sedangkan Allah swt. hanya akan menghakimi manusia itu dan membalasnya dengan pahala ataukah siksa.

Firman Allah swt., “Apa saja kebaikan yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpa kamu adalah dari (kesalahan) dirimu sendiri. Dan Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai Rasul bagi seluruh manusia, dan cukuplah Allah menjadi saksi”. (QS. An-Nisaa`: 79)

    Semua itu merupakan sebab-akibat hancurnya kehidupan perdamaian manusia yang berasal dari kehidupan manusia itu sendiri yang zhalim. Tidak dapat dikatakan mutlak sebagai takdir Allah swt., karena Allah swt. telah menurunkan kebenaran melalui petunjuk rasul-Nya untuk diikuti oleh semua umat manusia. Yaitu Islam, yang diturunkan sebagai agama Allah yang cinta damai. Di dalamnya terdapat kebenaran hakiki yang memanusiakan manusia menurut fitrah yang sebenarnya. Maka sesatlah manusia yang tidak mengikuti petunjuk kebenaran tersebut.

    Firman Allah swt., “Dan sungguh Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat (kebenaran), dan tidak ada yang ingkar kepadanya kecuali orang-orang yang fasik (durhaka)”. (QS. Al-Baqarah: 99)

    Rasulullah saw. bersabda, “Allah menciptakan rasa kasih sayang itu seratus bagian. Yang sembilan puluh sembilan disimpan di sisi-Nya, sedangkan yang satu bagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bagian itulah para makhluk saling berkasih sayang, sehingga kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya terinjak”. (Shahih Bukhari terjemah kitab At-Tajridush Sharih)

    Karena itu, sudah menjadi keharusan sebagai manusia untuk menjaga dan memelihara perdamaian di muka bumi ini. Mengendalikan kehidupan dengan sikap normal dan sewajarnya, sehingga terbentuklah kehidupan yang seimbang dan penuh dengan kasih sayang. Sebagaimana yang dikatakan oleh H. Aboebakar Atjeh dalam buku Pengantar Ilmu Tarekat, “Bahwa perdamaian itu adalah perseimbangan, jika perseimbangan itu tidak terdapat maka terjadilah pertentangan antara pribadi seorang manusia dengan manusia lainnya”.

    Perseimbangan yang dimaksud ialah seimbangnya unsur-unsur penggerak kehidupan ruhani manusia. Seperti pendapat yang dikemukakan orang Sufi terdahulu, bahwa kehidupan lahir itu hanya merupakan akibat dari apa yang dilakukan manusia. Sedangkan kehidupan manusia digerakkan oleh tiga pokok, yaitu syahwat (hawa nafsu),    `aqal (akal), dan ghadhab (kegiatan). Jika ketiganya itu seimbang, maka hidup manusia menjadi normal dan wajar. Dengan kata lain, jika ketiganya ini dapat dikuasai dengan baik maka tidak akan ada salah satunya yang berlebihan. Karena, jika salah satunya melebihi yang lain (tidak seimbang), maka kehidupan manusia itupun menjadi abnormal atau tidak wajar.

    Namun, ketiga unsur penggerak kehidupan ruhani manusia itu berasal dari yang satu, yaitu syahwat. Syahwat atau hawa nafsu itulah yang menyebabkan timbulnya keinginan hingga kemudian menggerakkan kehidupan manusia. Dengan demikian, jika hawa nafsu itu berlebihan maka keinginan yang timbul pun menjadi tidak wajar bagi kehidupan seorang manusia.

    Manusia itu sendirilah yang menentukan apakah ia akan menjadi manusia yang baik atau buruk. Sebagaimana firman-Nya, “Allah tidak menjadikan seseorang dua hati di dalam rongganya”. (QS. Al-Ahzab: 4). Bahwa Allah swt. Tidak menciptakan kebaikan dan keburukan sekaligus secara utuh bersamaan keduanya di dalam hati seseorang. Namun, kembali kepada manusia itu sendiri bagaimana mengendalikan dan mengarahkan syahwatnya sehingga membentuk hati yang baik ataukah buruk.

    Sedangkan syahwat tidak akan sempurna dikendalikan tanpa adanya akal dan ghadhab. Adapun ilmu, merupakan syarat mutlak penghidupan yang dicerna oleh akal sehingga melahirkan akhlak yang sempurna bagi seorang manusia. Sebagai contoh, akhlak yang mulia para Sufi tidak akan terbentuk tanpa adanya ilmu dan pengendalian hawa nafsu. Maka lahirlah hasilnya, kehidupan perdamaian manusia yang tentram dan sejahtera.

    Tidak ada istilah keterlambatan dalam melakukan perubahan. Sebelum terbitnya matahari dari barat dan penyesalan yang tiada gunanya, saat kehancuran besar menghentikan putaran waktu. Dengan memulainya dari diri sendiri (individual) demi terciptanya sebuah perubahan dari yang tidak baik menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik, dan dari yang benar untuk terus menebarkan kebenaran. Dan ingatlah yang difirmankan Allah swt., “Inilah yang telah dijanjikan kepada setiap orang yang selalu kembali kepada Tuhan dan senantiasa memelihara fitrah dan amal perbuatannya, yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Dalam keadaan menyendiri datang (kepada Allah) dengan hati bertaubat”. (QS. Qaaf: 32-33)


Ditulis Oleh: Fariz Huzairi
Artikel Hancurnya Kehidupan Perdamaian Manusia ini telah diterbitkan di www.karawanginfo.com dengan judul yang berbeda.
read more

Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia

Antologi Puisi. Antologi puisi Sastra Berduri yang berjudul “Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia
Sebuah goresan pena klasik yang menjerit, sebagai antologi kehidupan dalam diri yang terlantun menjadi setangkai puisi, dipersembahkan untuk mereka yang memiliki perasaan abadi, yang membulatkan tekadnya untuk selalu mensucikan cinta sejati.
Antologi Puisi, Karya Pena Sastra Berduri

antologi puisi sastra berduri
Antologi Puisi Sastra Berduri, Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia


"Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia"

Awalnya sungai, hingga ke lautan;
Seribu anak sungai bahkan menuju samudera...
Awalnya kering hingga membanjiri, padahal bunga telah merekah dan
harumnya pun sudah tinggal sampai di mata-mata.

Guratan nasib tidak membungkus sarapan yang telah lalu,
juga tidak membawa makanan untuk hari yang tak pernah ada,
hanya saja takdir yang membatasi nafsu untuk merangkul dan memikul,
namun tidaklah ia menahanmu untuk tetap bersahaja.

Derita jika kau katakan, “Ini derita!”
Dan duka jika kau nyatakan, “Ini rasanya!”
Namun cinta, sungguh! Jika kau pahami cinta, jauh dari apa yang telah kau lihat selama di dunia ini,
selama hidupmu, cinta, tak pernah membawa apa-apa...
kecuali nurani dan hatimu yang menjiwainya!

Dan sungguh, kuungkap semua ini bukan karena nasib atau takdir yang mencengkeramku,
atau juga karena pandang-jiwaku, melainkan karena aku menatapnya;
karena aku menyantapnya dengan jiwaku,
dan inilah bahwasannya:

Sungai takkan sampai jika tak ditakdirkan untuk selalu merindukan samudera,
juga lautan takkan tenang jika saja ombak tak menghiasi damainya.
Seperti apa yang kau lihat
pada setangkai bunga mawar itu, yang telah tumbuh dan lalu meninggalkan masanya,
bukankah tak berarti itu tanpa arti, jika harumnya sempat menghiasi dunia!



Oleh Fariz Huzairi, di Jakarta, 20 Februari 2013.
Dalam Antologi Puisi Sastra Berduri yang berjudul  “Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia
Sebuah Coretan Sastra dalam Antologi Puisi, Karya Pena Sastra Berduri.
read more

20 Februari 2013

Sebuah Pengantar Kehidupan Besar

Inilah sebuah Anugerah, Sebuah Pengantar Kehidupan Besar!

Kehidupan besar!

Rahasia yang mengagumkan! Ketika setiap anak menyadari apa yang telah dialaminya selama ini(?); atas apa yang telah didapatkannya sejauh ini(?), dan atas apa yang telah diperbuat dan dilakukan serta diusahakannya hingga seusia kini(?); maka untuk apa serta kepada siapa akhir tujuan hidupnya itu diberikan(?).

Inilah kehidupan yang penuh dengan mistik --bagi beberapa orang yang mempercayainya sebagai keajaiban belaka, mistik tidaklah berarti apa-apa selain prasangka dan fanatisme-- di atas moral yang logis dan berlapis kemanusiaan serta ketuhanan yang nyata!

Maka saya mengatakan bahwa kehidupan ini amatlah rasional, tak cukup hanya dengan akal dan logika.

Seperti kehidupan yang sebelumnya saya rasakan yang sangatlah penuh dengan keterbatasan, ternyata memiliki keluasan yang tiada batasnya ketika saya dapat berinteraksi dan berbagi melalui blog ini. Sebuah nikmat yang luar biasa, sebagai karunia dari Sang Pencipta, tiada lain agar kita selalu saling menjaga kehidupan sosial di atas individu sebagai makhluk manusia yang memang tidak memiliki kesempurnaan kecuali dengan cara saling melengkapi demi memenuhi seperangkat kebutuhan dasar untuk melakukan hidup dan terus memahat diri hingga mendapatkan hari esok yang kita inginkan sebaik mungkin: Itulah sekiranya yang menurut saya dinamakan Nilai Sejati!

sastra berduri, sebuah pengantar kehidupan besar
Sastra Berduri, Sebuah Pengantar Kehidupan Besar

Lentera yang terang dan yang terkadang meredup....
Logika yang seringkali dibanggakan oleh seseorang dan sebagian banyak orang ternyata tak membendung akal untuk masuk lebih dalam, yakni melalui rasio yang kita bawa sejak lahir yang ternyata selalu menangkap kesalahan dan kekurangan atas apa yang terlihat sebagai hal yang mengagumkan yang dicipta manusia. Namun sebagaimana kebijaksanaan yang telah Tuhan berikan kepada Manusia terpilih, juga kepada makhluk seluruhnya, bahwa harga dan nilai itu sejatinya adalah untuk dihargai bukan untuk dimunafikkan. Maka itu mustahil jika hasrat tak dapat ditahan, dan jika nurani tak dapat dipergunakan menyertai kesabaran dan kemampuan yang mapan, sebab anak manusia sama dilahirkan dan sama saling bertautan: sebagai rantai kehidupan yang mempertautkan masa yang satu dengan masa berikutnya, antara jaman yang satu dengan jaman selanjutnya, dan antara kehidupan di dunia dengan kehidupan setelah kematian seluruhnya. Inilah Kebijaksanaan Besar: kebijaksanaan untuk saling menghargai, kebijaksanan untuk saling menyadari, serta kebijaksanaan untuk yang tiada pernah mendapat kesempuranaan, di mana hanya jiwa itulah yang tunduk dan patuh pada kekekalan abadi --keabadian atas izin Sang Pemilik kebijaksanaan dan kematian-- baik maupun buruk akhirnya manusia itu.

Dan akhirnya... hanya kepada Sang Penciptalah, penulis tunduk dan mengabdi, seraya memohon pertolongannya agar senantiasa selalu dipertemukan dengan pembaca dan sekawanan manusia yang selalu ingin memperbaiki nilainya tanpa pilih kasih atau membeda-bedakan sesama manusia.



[fariz huzairi] Jakarta, 10 februari 2013
read more

Terlampau Merindukanmu, Ayah


Puisi Terlampau Merindukanmu, Ayah
Karya Pena Sastra Berduri Indonesia





bergetar tubuhku di teriknya waktu

bergemuruh rindu kubaca seorang diri, memburu
menatap angin yang sunyi berhalang
di antara dua ruang

bahkan lebih
di sudut malam yang hanya nampak angan mati
di sepasang semangat dan sisa-sisa mimpi

di mana? tak berteriak engkau di telingaku, juga tak berkibar
langkahmu tak menyuarakan hidupku. Ayah...
engkau di mana, Ayah? Dengar!
Bayimu kini telah dewasa

maka pulanglah
menderu dingin dengan hangatmu
meski di sepertiga malamku yang hampir habis
dan bacalah sisa-sisa air mataku!




Terlampau Merindukanmu, Ayah
Karya Pena Sastra Berduri Indonesia
[fh] 9 April 2010
read more

Ketika Kabar Duka Membunuh Malam Pertama

Puisi Ketika Kabar Duka Membunuh Malam Pertama
Karya Pena Sastra Berduri Indoesia

telah habis terhapus senja
terpupuk rindu, cintaku
setelah sang mentari garang kunikmati lara
di langit sendu menatapku

kasih,
sesungguhnya bulan purnama itu ada
dan malam senantiasa bersenandung

di syahdunya senyuman
di tepian rindu yang hampir berkilauan
semua itu ada!
di indahanya kisah yang kini berakhir, seketika

kasih,
bukan malam pertama yang kunikmati kini
pun sang rembulan, tak kuasa bersinar untukku
sebab ragamu kini tak lagi menyimpan jiwa



[fh] 13 April 2010
Ketika Kabar Duka Membunuh Malam Pertama
Karya Pena Sastra Berduri Indoesia
read more

Tentang Mimpi [2]

tentang mimpi dan hari kemarin,
yang kini pagi telah membelahnya
menjaga apa yang didapatkan
tentang hari ini yang aku lalui,
hanyalah langkahku untuk terus menjagamu



[fh] 13 Desember 2007
read more