Embun merasuk ke dalam hatiku saat kuhirup napas di pagi itu, begitu sejuk dan damai.
Sebuah kesadaran yang menarik akan adanya nikmat-nikmat lain yang datang
melanda, seperti halnya aku yang merasakannya saat ini. Lantunan ayat-ayat suci
al-Qur’an yang kupelajari setiap malam terasa selalu bergemuruh di jiwaku,
seakan bergetar dalam aliran yang mendamaikan. Jiwaku merasakannya, sesuatu
yang penuh daya kudapatkan sejak tinggal di pesantren ini: nikmat hidup yang
begitu nyata dalam setiap hembusan napasku, dan segenggam perasaan di dalam
bathinku yang sulit aku jelaskan dan hanya aku sendiri yang dapat memahaminya,
sebagai nikmat terbesar dalam hidup ini, yakni kedamaian di dalam memeluk Islam
dan mendekap Iman di hati.
Aku kembali menapaki hidupku dengan diriku yang baru, dengan segala perbedaan
yang aku rasakan dan aku hadapi sejak kehidupan ini semakin memaksaku untuk
memahaminya. Tepatnya sekitar empat tahun yang lalu, sebuah masa yang usiaku
pernah meratapinya; ketika usiaku baru menginjak enam belas tahun dan aku duduk
di kelas satu SMA terfavorit dan termewah di Bekasi, awal sebuah kisah menuju
hikmah. Ananda Halimah namaku. Dan aku dikenal karena kecantikan dan kekayaan
yang kumiliki. Sebagaimana aku menganggap bahwa kecantikan dan materi adalah
sesuatu yang sangat berharga dalam hidup, dan karenanya pula aku selau merasa
bisa mendapatkan apa pun yang aku inginkan. Namun kenyataan menjawabnya lain.
Ketika keberadaanku yang masih dihadiri oleh ayah, ibu, dan Ilham, adik
laki-lakiku satu-satunya yang masih berusia delapan tahun, sebuah bencana
menimpa kami sekeluarga. Kami yang tinggal dalam kemewahan di sebuah rumah yang
terletak di kawasan perumahan Bekasi Selatan, tidak menduga sama sekali bahwa
takdir akan segera merenggut apa yang telah kami genggam. Ayahku, yang
merupakan seorang pengusaha yang memiliki perusahaan terbesar di Kawasan
Bekasi, mengalami kerugian besar akibat tertipu oleh rekan bisnisnya sendiri,
sampai akhirnya perusahaan ayah pun bangkrut. Harta dan rumah kami habis untuk
melunasi sisa hutang-hutang ayah ke beberapa pihak yang sempat meminjami ayah
uang untuk membayar gaji para pekerjanya. Kami pun hijrah ke Karawang dan
mengontrak rumah di daerah Jatisari, Cikampek.
Hari-hari kurasakan begitu menyiksa. Kenyataan yang sulit bagi kami untuk
menerimanya. Aku yang biasanya selalu dimanjakan oleh fasilitas-fasilitas dan
kemewahan, kini hanya selembar tikar yang menjadi alas untuk tidur kami
sekeluarga. Tidak ada lagi materi yang selalu aku banggakan setiap kali
berkumpul bersama teman-teman di sekolah. Kecantikanku pun tak lagi berarti,
hanya rasa malu yang melekat di wajahku. Tempat sekolahku kini hanya berbentuk
bangunan tua yang lelah, yang menurutku lebih layak dijadikan gudang
penyimpanan barang-barang bekas. Aku dan adikku sekolah di sana, di tempat yang
sama, dalam satu gedung “Yayasan Baiturrahman” yang memiliki dua tingkatan
pendidikan Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Enam bulan kemudian, saat kami perlahan berusaha untuk menerima kenyataan, ibu
mengalami sakit keras. Ibu mengalami demam tinggi disertai benjolan di
kepalanya yang semakin membesar. Kami tidak mempunyai biaya untuk membawa ibu
berobat ke rumah sakit. Meski ayah telah melakukan berbagai cara untuk
mendapatkan uang, hasilnya hanya mampu membuat ibu terbaring pasrah di rumah
dengan obat-obatan yang dibeli ayah dari warung. Batin kami seakan menjerit
dalam ketidakberdayaan menghadapi takdir: ayah yang kehilangan perusahaannya,
ibu yang sakit keras, dan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Ibu hanya terbaring seadanya dengan mata kosong bak merayu maut tatkala ayah
meniupkan kesabaran di keningnya. Entah sakit apa yang diderita ibu. Beberapa
dokter selalu berkata lain tentang penyakit ibu setiap kali ayah membawanya
berobat jalan ke puskesmas. Air mata kami mengalir dalam kepasrahan siang dan
malam, sampai akhirnya ibu meninggalkan kami pada bulan April 1998. Tangisan
pun semakin bercampur perih dari kedalaman duka yang paling dalam.
Keadaan kami yang semakin tak berdaya diterkam kesulitan dan musibah yang datang seakan tiada henti. Ayah tampak sangat putus asa ketika menatap aku dan adikku yang
kelaparan. Keadaan semakin memburuk tatkala musibah kembali datang merenggut
Ilham, adikku. Bencana runtuhnya gedung yayasan tempat kami bersekolah telah
menutup masanya harus berakhir dan terpisah dengan aku dan ayah. Atau mungkin
Ilham yang merindukan ibu, dan Ilham ingin sekali menemuinya.
“Ah, lagi dan lagi karena materi,” lirihku, sebab ayah hanya mampu menempatkan aku
dan adikku ke sebuah sekolah yang gedungnya sudah reot dengan alasan
biaya yang jauh lebih murah dibanding sekolah lainnya. Alasan yang cukup tepat.
Namun sayang, keadaan itu terlalu berat terhalang depresi sehingga jauh
kemungkinan untuk ayah menyadarinya: takdir yang seharusnya kami syukuri. Atau
mungkin hanya aku yang merasakannya, bahwa kami yang selama ini jauh dari rasa
syukur.
Setahun berlalu, menyeret kami ke dalam penderitaan yang semakin sempit. Ayah tidak
mampu lagi membiayai sekolahku hingga akhirnya ayah mengirimku ke sebuah
pesantren salafiah, tepatnya di Pondok Pesantren Al-Husna yang terletak
di pedalaman Kabupaten Subang. Itu pun tanpa biaya, karena ayah benar-benar
menyerahkanku sepenuhnya kepada KH. Kamal Bahari, pimpinan pondok pesantren
itu. Dan di sanalah aku mulai menyadari bahwa selama ini kami yang tidak pernah
mensyukuri hidup, dan kami yang jauh atau bahkan sama sekali tidak mengenal
Tuhan. Perjalanan yang pernah dilalui dengan bergelimang harta, namun tak
pernah kami sadari dari mana sebenarnya nikmat itu berasal. Dan kehidupan yang
tak pernah kami syukuri sehingga kesengsaraan pun menimpa kami sebagai hukuman.
Dan aku yang tersadar setelah satu per satu orang yang aku cintai pergi
meninggalkanku tanpa kutahu mimpi itu adalah hidupku yang tanpa tujuan. Namun,
semua penyesalan ini tidak akan mengembalikan apa yang telah hilang dariku.
“Ya Rabb…” tangis hatiku.
Pandangan hidup ini mulai muncul sebagai ruang yang fana. “Tapi mengapa harus menanti
datangnya kesulitan, jika untuk menegenalmu-MU ternyata memang lebih layak dan
sudah merupakan keharusan bagi setiap hamba terhadap Penciptanya? Maka
ampunilah aku, Ibuku, Ayahku, dan adikku, yang selama menjalani hidup di dunia
ini tidak pernah bersujud dan bersyukur kepada-MU, dan berikanlah jalan
kemudahan untukku menemukan-Mu, ya Rabb…”
Anganku melayang dalam penyesalan dan duka, serta air mata yang tiada henti mengalir di wajah dan batinku. Sesuatu itu teramat perih setiap kali kuingat Ayah, Ibu, dan
Ilham, hingga jiwa ini seakan berontak ingin memisahkan diri dari raganya.
Musibah pun kembali menimpaku tatkala aku mulai berjalan menyadari diri: ketika
ayat-ayat Allah kurasa semakin meresap di jiwaku, dan ketika semakin kusadari
akan segala nikmat dalam hidup ini. Tepatnya di bulan Mei 1998, ketika aku baru
beberapa bulan tinggal di pesantren ini, dan belum lama aku merasakan kesegaran
hidup yang sesungguhnya, seorang lelaki biadab telah mengotori mahkota
kesucianku. Apa yang kujaga selama ini dirampasnya tanpa perikasih, hingga
hancur harga diriku di hadapan semua orang. Bahkan kurasa hidupku jauh tak
berarti. Aku merasa menjadi orang termalang yang dibiarkan hidup dengan
menanggung beban dan duka setinggi langit berdiri dan seluas bumi terhampar.
Hari-hari kurasa kembali tak berarti, bagiku, hidupku, dan terlebih
keberadaanku di pesantren ini.
“Aku mau pergi saja, Teh,” kataku kepada Teh Irma. Dia adalah santriwati senior di
pesantren ini, sekaligus satu-satunya temanku yang paling dekat.
“Apa tidak ada cara lain menurutmu?” tanyanya.
Aku diam, tertunduk, tidak tahu dan bahkan tidak mengerti dengan ucapanku sendiri.
Wajahku sudah teramat malu pada semua orang penghuni pesantren ini. Dan aku
tidak tahu lagi harus bagaimana agar kutemukan kembali semangatku untuk hidup.
Dunia ini seakan telah benar-benar berakhir: berakhir untukku menjalani dan
melanjutkan hidup ini, dan hanya untukku saja.
“Aku tak tahu,” jawabku sambil menangis. Air mataku tak tertahan menetes. Dan ia pun
memelukku, hinnga basah bahunya oleh kepedihanku ini.
“Ini adalah ujian,” katanya, berusaha menenangkanku, “Halimah, taubatmu telah
sungguh-sungguh, dan kini Allah ingin melihat sedalam apa imanmu. Karena itu
kuatkanlah dirimu. Menurutku, tempat ini lebih baik untukmu saat ini.”
“Apakah karena aku tidak memiliki siapa-siapa lagi?” tanyaku.
“Bukan itu maksudku. Kamu bisa menenangkan diri dulu di sini, setidaknya sampai
keadaanmu membaik. Setelah itu terserah apa keputusanmu yang menurutmu baik,
kami atau siapa pun tidak akan melarangmu jika memang kamu sendiri yang
memutuskan untuk pergi dari pesantren ini.”
Aku berusaha untuk betahan menjalani hidupku, dan bertahan untuk tetap tinggal di
pesantren ini: bertahan dari rasa perih, sedih, dan rasa malu karena aku yang
tidak memiliki kesucian lagi di hadapan Tuhan dan semua orang. Seiring
keputus-asaanku yang semakin bertambah, rasanya aku pun ingin menyusul ayah
saja: seperti sakit yang di derita ayah di rumah sakit jiwa. Atau lebih baik
bagiku menyusul ibu dan adikku. Tetapi bagaimana jika Tuhan semakin murka
kepadaku?
Aku tidak ingin Dia semakin marah kepadaku karena keputus-asaanku ini. Aku tidak
ingin menambah dosa-dosaku dengan pasrah begitu saja tanpa usaha keras yang
belum kulakukan sama sekali. Biarlah orang lain menganggapku tidak suci, atau
bahkan hina, aku akan tetap melanjutkan sisa hidupku ini untuk menemukan Allah
dengan lebih sungguh-sungguh. Dan aku ingin mendekatkan diri kepada-Nya,
menyerahkan jiwa dan ragaku yang kotor ini sepenuhnya untuk dihakimi-Nya. Dan
aku tidak akan pernah menyesali neraka jika memang itu adalah tempatku yang
terbaik menurut Allah. Namun sungguh, aku merasa sangat tidak layak jika
berharap surga menjadi kediamanku nanti. Karena sebaik atau sebanyak apapun
amal kebaikan yang kulakukan, itu tidak akan sebanding dengan nikmat yang telah
diberikan Allah kepadaku, meski hanya sepasang mata yang selalu kugunakan untuk
melihat segala apa yang ada di alam kehidupan ini.
“Ya Rabb, terimalah taubatku….”
Dan sampai pada akhirnya, setelah satu pagi yang
kulewati itu, mata ini tidak lagi berkedip. Ruang kosong nan luas kurasa sangat
pekat, begitu gelap. Aku seakan mendengar suara ibu dan Ilham adikku, begitu
dekat.
[fh]