Sajak Kupu-Kupu Syurga (tantang Mimpi)
Karya Pena Sastra Berduri Indonesia
wajah cantikmu...
bukanlah yang selalu membuatku teringat akan dirimu
bukan pula karena sang waktu, atau
karena kebersamaan yang lama pernah mengikat,
atau dalam kebaikan yang melekat,
melainkan pesan dari jiwa saat aku harus menatap mimpi yang jauh lebih sempurna:
akhir(at) yang baik.
yang harus kau tahu...
aku tak pernah menganggapmu sempurna
dan tak pula aku mendambakanmu untuk menjadi kekasih setia, meski
memang itu pernah terjadi
(aku tak bisa menamakan ini kesedihan atau bahkan kesenangan!)
karena engkau memang bukan wanita sempurna!
karena engkau memang tak memiliki cinta
yang ditakdirkan untukku!
Kan kubiarkan kau pergi...
meski harus dengan akhir yang pedih,
meski memang harus dengan akhir yang letih,
meski harus dengan akhir yang menyudutkanku,
sebagaimana telah kau limpahkan ambisimu itu!
"Ini semua salahmu!" katamu,
saat semua terjadi, kupikir, ternyata semua hanya untukmu,
yang telah kuperbuat itu,
dan aku menyadarinya bahwa apa yang telah kuperbuat membuatku menanggung salah.
Tapi kau harus tahu bahwa
sang mawar yang telah kupetik di atas sana,
yang pernah kau tawarkan dulu,
aku telah memetiknya...
dan kau harus tahu bahwa
semua pintamu selalu membawaku untuk pergi ke mana segala keinginan dan
ambisimu itu berada!
dan kau harus tahu... kau harus sadar, sayang!
aku mencintaimu karena aku tahu bahwa kau bukanlah wanita yang sempurna
dan aku berharap... dan aku selalu berharap agar bisa membawamu ke arah mana
yang menjelmai sempurna,
dengan nyata,
seperti kupu-kupu syurga itu.
(Oleh: Fariz Huzairi)
Demikian Sajak Kupu-Kupu Syurga (tantang Mimpi)
Karya Pena Sastra Berduri Indonesia
[fh]
Karya Pena Sastra Berduri Indonesia
wajah cantikmu...
bukanlah yang selalu membuatku teringat akan dirimu
bukan pula karena sang waktu, atau
karena kebersamaan yang lama pernah mengikat,
atau dalam kebaikan yang melekat,
melainkan pesan dari jiwa saat aku harus menatap mimpi yang jauh lebih sempurna:
akhir(at) yang baik.
yang harus kau tahu...
aku tak pernah menganggapmu sempurna
dan tak pula aku mendambakanmu untuk menjadi kekasih setia, meski
memang itu pernah terjadi
(aku tak bisa menamakan ini kesedihan atau bahkan kesenangan!)
karena engkau memang bukan wanita sempurna!
karena engkau memang tak memiliki cinta
yang ditakdirkan untukku!
Kan kubiarkan kau pergi...
meski harus dengan akhir yang pedih,
meski memang harus dengan akhir yang letih,
meski harus dengan akhir yang menyudutkanku,
sebagaimana telah kau limpahkan ambisimu itu!
"Ini semua salahmu!" katamu,
saat semua terjadi, kupikir, ternyata semua hanya untukmu,
yang telah kuperbuat itu,
dan aku menyadarinya bahwa apa yang telah kuperbuat membuatku menanggung salah.
Tapi kau harus tahu bahwa
sang mawar yang telah kupetik di atas sana,
yang pernah kau tawarkan dulu,
aku telah memetiknya...
dan kau harus tahu bahwa
semua pintamu selalu membawaku untuk pergi ke mana segala keinginan dan
ambisimu itu berada!
dan kau harus tahu... kau harus sadar, sayang!
aku mencintaimu karena aku tahu bahwa kau bukanlah wanita yang sempurna
dan aku berharap... dan aku selalu berharap agar bisa membawamu ke arah mana
yang menjelmai sempurna,
dengan nyata,
seperti kupu-kupu syurga itu.
(Oleh: Fariz Huzairi)
Demikian Sajak Kupu-Kupu Syurga (tantang Mimpi)
Karya Pena Sastra Berduri Indonesia
[fh]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar