30 Desember 2015

Kesadaran yang Terpejam

Kesadaran yang Terpejam...
Aku hanyalah sebatang pena yang sudah lama tak pernah digunakan lagi. Aku hampir saja mengering, bahkan sebentar lagi, mungkin.
Aku sudah lupa bagaimana caranya merangkai puisi, menguasai hati dan pikiran untuk mengubahnya menjadi inspirasi yang hidup. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menemukan kata yang tepat untuk satu saja keadaanku saat ini, selain hanya mengulang-ulang kata yang sama yang aku lakukan. Kata-kata yang sama, baris demi baris. Seperti air yang tertumpah, bukan tertuang. Seperti gerimis yang sesaat lalu kering, dan gerimis lagi, dan lalu kering lagi.
Inspirasi yang hilang, ataukah semangat yang seakan tak punya lagi kesempatan untuk tumbuh. Musim kemarau berlalu, musim hujan pun tak menentu. Sebaris udara yang kurasa, yang kadang dingin, dan tak jarang pula panas.
Rangkaian hidup terus berjalan, namun tak sempat kusimpan perjalanan itu dalam sebait saja cerita. Sendiri, juga tidak! Ramai namun sepi. Tersenyum namun hati menangis. Bersandar pada ketentuan yang ada. Mencari keberadaan hakiki yang mungkin harus kutemukan: Kesadaran!
read more

17 Desember 2014

Langit Merah

Tatkala aku mengerti apa yang terjadi
Hutan-hutan terbakar dan bara api yang menghanguskan
Lebih banyak dari pada itu, dan mereka terus berlari
Dan lebih banyak dari mereka yang berlari serta saling menyalahkan

Tatkala aku mengerti apa yang terjadi
Kambing-kambing yang telah mati dan terkapar
Lebih banyak dari pada itu, sapi dan ayam pun telah terlanjur mati
Dan mungkin saja mereka hanya peduli pada lapar

Tatkala aku mengerti apa yang terjadi
Akan lebih banyak dari pada apa yang telah terjadi ini
Dan mereka menyadari, sesaat setelah mati
Tatkala langit merah dan Tuhan berkata: "Semua tak dapat diulang kembali!"



Fariz Huzairi
Jakarta, 17 Desember 2014

read more

13 April 2014

Drama Sebuah Rahasia

Sedih bukanlah pinta untuk meneteskan air mata
Karena terkadang laku lebih dari sebuah cerita
Seperti angin yang mengoyak apa yang ada di atas bumi
Atau yang besar, yang tak lebih kuat dari yang kecil

Apakah cerita itu tak pantas untuk dikisahkan?
Bukankah segala sesuatu yang ada telah hadapi takdirnya?
Kepercayaan, kesulitan, dan aroma kejahatan yang mulai merintih
Menjerit hati dalam senyum tangis dan tersembunyi

Karena hakekat pada terciptanya suatu hati:
Niat menjadi kunci bagaimana raga bertindak,
Keadilan selalu berdiri meski awalnya samar terkalahkan,
Dan kemalangan bukanlah hal yang diraih oleh kebaikan

Di sanalah rahasia itu kan berdiri
Di suatu pagi yang cerah matahari,
Di saat yang tidur pun terjaga, dan yang lupa
Kan kembali pada asalnya
read more

28 Agustus 2013

Mencari Keyakinan Setelah Kehilangan

Kelu tak bicara
Harap, sirna
Hanya pandangi apa yang terjadi

Dibingkai penyesalan atau entah kekecewaan
Diujung perjalanan temui kawanan:
Mereka tak berapi!
Mereka tak bertanah!
Mereka jelas tak bercahaya!

Aku pikir, lantas
apakah ini musibah atau bencana?
Akankah sesuatu yang hilang dapat kembali?

"Kau yakin?"
Sesuatu nampaknya bicara padaku,
"Sesuatu yang hilang tak akan pernah terganti?"

Ya, sampai pada waktu yang kita tahu,
Keyakinan bukanlah upeti!
Atau sama sekali hingga mati keyakinan tidak akan tumbuh!
read more

20 April 2013

Doa Untuk Ibu


Entahlah berapa lama lagi
Kuhitung tahun dan hari-hari kulalui
Gemerlapnya dunia hiburku sepi
Sepi, aku sendiri

Aku sendiri lelah menanti
Tuhan beri aku pinta
Tuhan beri aku segala
Tapi Tuhan selalu memberi

Sedang aku, selalu meminta
Sepintas lupa tak luput di hamba
Hamba...

Pinta dan doa...
Pinta adalah doa
Pinta adalah harapan
Cinta yang selalu merasa untuk hidup, dari Tuhan

Meski aku merintih,
Meski aku menangis,
Dan meski aku tanpanya, ku selalu memanggil namanya,
“Ibu... Semoga engkau selalu bersamaNya”



Jakarta, 20 April 2013
Fariz Huzairi
read more

10 Maret 2013

Ketika Hanya Takdir yang Menjawab

KETIKA HANYA TAKDIR YANG MENJAWAB

untuk mereka yang selalu bertanya, mengapa

hujan tak mau jatuh, meski rapuh
di langit ditikam kegelapan
dihitung resah tak juga terlukiskan
berat asa kami terjatuh

ladang-ladang kami kering, juga sumur
pun sungai menjadi penyakit
“Tuhan, di mana kuasa-Mu
dan jelaskan pada kami apa yang sedang Kau perbuat?”

akhirnya kami tak lagi bicara tentang apa yang terjadi,
sebab kami tak mengerti
dan kami tak lagi berusaha untuk apa yang kami
butuhkan, sebab kami semakin tak mengerti

diam-diam kami kali ini, dalam hilang
asa kepada-Mu:
“Tuhan, pengajarankah bagi kami
agar kami dapat mengerti?



fariz huzairi
read more

Sebelum Larut Malam Menjemputku

SEBELUM LARUT MALAM MENJEMPUTKU

Malam tak mau larut saat kugadaikan mimpi untuk menembusmu ke dalam pelukan. Seperti rindu yang tak juga surut, kau selalu masuk diwaktu sendiriku. Mendesir, bersemilir, bersemayam di dalam batinku. Satu rasa yang selalu kurasa saat getir musim hijau telah mati dan hilang adanya.

Maka kutuang kembali secangkir kenangan untuk menghilangkan kantukku. Secangkir harapan yang telah mati bercampur takdir Tuhan kini. Di lintas khayal dan di pesisir kenangan, disapu ombak(!); di pantai itu kini telah menjadi lautan yang tersapu laksana tsunami waktu itu!

“Inikah musim itu yang tak lagi menentu dan berubah sewaktu-waktu? Kematian beriring kematian dan dosa beriring dosa. Lalu bagai wajah yang tak tahu malu menikam sendi-sendi yang tak berdosa yang telah menilai-memberi harga. Dan apa yang pantas dikata untuk maaf yang tiada guna, jika hari-hari selalu sama baginya, tiada ubahnya?”

“Lain memang, tak mungkin berulang. Takdir mungkin, namun tak pasti selama Tuhan masih memberi. Karena kesempatan hidup memang satu kali, dan bukan mati jika masih bisa diusahakan untuk membenah diri.”

“Sesal memang tiada arti jika dirasai tanpa disesali. Disesali pun tiada ubah jika diri tak mampu untuk merubah. Kuasa memang milik Tuhan namun manusia diberi kesempatan untuk mengusahakan.”

Nasib. Kau kata kadang seolah sudah jalan. Takdir. Kau kata seakan semakin sudah terang. Kau rangkai cerita bak melodi di atas iringan perkusi yang tersembunyi. Kau berlabuh bak terjatuh terluka diri. Kau tikam semua janji dengan akhir tanpa awal. Dan kau lupakan siulan-siulan merdu yang pernah terjadi. Bahkan kau ubah emas menjadi duri!

Cinta, indahnya tak secantik pesonanya...

Namun kan kujaga nasihat-nasihat itu. Meski terpenggal kisah hitam menimpa diri, namun arti bukanlah sebagai penghias diri. Rasa cinta kan tetap ada meski sebatas doa dan penghapus dosa.

Untukmu, sepenggal rindu, sepenggal kawan jiwaku –yang telah lampau sebelum pahit, dan sebelum rasa sakit memisahkan jiwa dan ragaku, kan kujaga doa untuk masa yang tak pernah kita tahu.



Fariz Huzairi, di Jakarta, 10 Maret 2013
read more

09 Maret 2013

Sajak Doa Orang Menyesal

Doa Orang Menyesal

Entah apa lagi yang harus kutuangkan di sini. Secangkir sajak telah sesak penuhi nikmat yang telah melaknat. Aku tak mau habiskan ini. Nikmat-nikmat itu sebagian banyak membuatku harus terlaknati...

Lebur tak lagi satu; sahabat, cinta, dan juga keluarga, entah (aku)... rasanya tak lagi ada. Bagai memuat doa-doa pasrah dalam gelisah nun jauh harap masih ingin terbitkan wajah. Namun aku hanya menepi, dan hanya menepi, berharap kembali jika telah sanggup kuganti mati.

Pisahi diri, aku pikir, sadari yang terjadi. Dari sekian jalan dalam muara penggalannya yang berfase, (meronta-ronta dalam sesal) enggan kubuat kembali ombak duri. Bagiku, cukup sudah bencana menimpa. Aku tak ingin lagi puasi diri dengan amuk birahi.

Cukuplah. Cukuplah saja aku pernah merasanya. Deru haru tak kebalkanku kecuali rindu. Ya, seperti perpisahan yang terjadi, yang terukir sebab kuasa birahi dan lupa diri, serta merta membuatku banyak kehilangan arti.

Namun kini, dimulai kali ini, sudah sepatutnya bak pengajar diri. Melihat! Merasai! Melihat apa yang pernah terjadi! Darah menjadi nanah di hidung hingga kini masih basah: berlumur resah, berikat pasrah, menjadi obat untuk tidak dulu menyerah! Meski hidup memang terlihat tak lagi memimpi mewah, setidaknya masih membentuk diri yang tak lepas bak tak berarwah.

Meski adanya....................
Dunia... Oh, Tuhan! Duniamu inikah juangku(?)
Kuingin Kau katakan, katakan bahwa kesempatan ini masih Kau berikan untukku!


Fariz Huzairi, di Jakarta, 8 Maret 2013
read more

08 Maret 2013

Sajak Putih Karya Chairil Anwar *versi SS

Sajak
Aku Ini Binatang Jalang, Jakarta: Gramedia, 2012


SAJAK PUTIH

buat tunanganku, Mirat

bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutera senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda

sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah...

Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku...


puisi karya Chairil Anwar

(versi Surat-surat 1943-1983)
Sumber Acuan: "Aku Ini Binatang Jalang" Editor: Pamusuk Eneste
read more

07 Maret 2013

Kepingan Sajak Chairil Anwar | Gejolak 1943

Sajak #1:
DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sesudah itu mati

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan Api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda

Sungguh pun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.

Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.





Sajak #2:
SUARA MALAM

Dunia badai dan topan
Manusia mengingatkan “Kebakaran di Hutan”
Jadi ke mana
Untuk damai dan reda?
Mati.
Barangkali ini diam kaku saja
dengan ketenangan selama bersatu
mengatasi suka dan duka
kekebalan terhadap debu dan nafsu.
Berbaring tak sedar
Seperti kapal pecah di lautan
jemu dipukul ombak besar.
Atau ini.
Peleburan dalam tiada
dan sekali akan menghadap cahaya.
..............................................................
Ya Allah! Badanku terbakar—segala samar.
Aku sudah melewati batas.
Kembali? Pintu tertutup dengan keras.





Sajak #3:
AKU

Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang-menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.





Sajak #4:
HUKUM

Saban sore ia lalu depan rumahku
Dalam baju tebal abu-abu

Seorang jerih memikul. Banyak menangkis pukul.

Bungkuk jalannya – Lesu
Pucat mukanya – Lesu

Orang menyebut satu nama jaya
Mengingat kerjanya dan jasa

Melecut supaya ini padanya

Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga

Pekik di angkasa: Perwira muda
Pagi ini menyinar lain masa

Nanti, kau dinanti-dimengerti!





Sajak #5:
KESABARAN

Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing menggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Di sebelahnya api dan abu

Aku hendak berbicara
Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah! tidak jadi apa-apa!
Ini dunia enggan disapa, ambil peduli

Keras membeku air kali
Dan hidup bukan hidup lagi

Kuulangi yang dulu kembali
Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang mesti tiba





Sajak #6:
CERITA

kepada Darmawidjaja

Di pasar baru mereka
Lalu mengada-menggaya.

Mengikat sudah kesal
Tak tahu apa dibuat

Jiwa satu teman lucu
Dalam hidup, dalam tuju.

Gundul diselimuti tebal
Sama segala berbuat-buat.

Tapi kadang pula dapat
Ini renggang terus terapat.





Sajak #7:
DI MESJID

Kuseru saja Dia
Sehingga datang juga

Kami pun bermuka-muka.

Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada.
Segala daya memadamkannya

Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda

Ini ruang
Gelanggang kami berperang

Binasa-membinasa
Satu menista lain gila.





Sajak #8:
DENDAM

Berdiri tersentak
Dari mimpi aku bengis dielak

Aku tegak
Bulan bersinar sedikit tak nampak

Tangan meraba ke bawah bantalku
Keris berkarat kugenggam di hulu

Bulan bersinar sedikit tak nampak

Aku mencari
Mendadak mati kuhendak berbekas di jari

Aku mencari
Diri tercerai dari hati

Bulan bersinar sedikit tak tampak





Sajak #9:
JANGAN KITA DI SINI BERHENTI

Jangan kita di sini berhenti
Tuaknya tua, sedikit pula
Sedang kita mau berkendi-kendi
Terus, terus dulu...!!

Ke ruang di mana botol tuak untuk banyak berbaris
Pelayannya kita dilayani gadis-gadis
O, bibir merah, sastra indonesia modern
O, hidup, kau masih ketawa??





Sajak #10:
1943

Racun berada direguk pertama
Membusuk rabu terasa di dada
Tenggelam darah dalam nanah
Malam kelam-membelam
Jalan kaku-lurus. Putus
Candu.
Tumbang
Tanganku menadah patah
Luluh
Terbenam
Hilang
Lumpuh.
Lahir
Tegak
Berderak
Rubuh
Runtuh
Mengaum. Mengguruh
Menentang. Menyerang
Kuning
Merah
Hitam
Kering
Tandas
Rata
Rata
Rata
Dunia
Kau
Aku
Terpaku.





Sajak #11:
ISA

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh
patah

mendampar tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah

terbayang terang di mata masa
bertukar rupa iini segara

mengatup luka

aku bersuka

Ini Tubuh
mengucur darah
mengucur darah





Sajak #12:
DOA

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling




Sumber Acuan:
"Aku Ini Binatang jalang"
"Deru Campur Debu"
"Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus"


koleksi sajak chairil anwar
koleksi buku sastraberduri.com












Koleksi Karya Sastra | Sastra Berduri | Jakarta, 7 Maret 2013
Bagian 1: “Kepingan Sajak Chairil Anwar | Gejolak 1943
read more

06 Maret 2013

Teratai Sajak Berduri

Kumpulan sajak ini ditulis dengan meminjam keindahan bunga pagi yang tertelan senja untuk setangkai Teratai Berduri yang kehausan... Lembaran sajak indah untuk seseorang yang telah menjadi inspirasi bagi saya, dan selama itu pula atau bahkan hingga selamanya, saya harus menemukan kembali fajar pagi. Juga yang telah mengalirkan sederas siraman emosi untuk batin, untuk kehidupan yang lebih baik –bagian dari setiap sisi konsep kehidupan manusia, yang relatif tidak berubah-ubah: teguh dan solid! Ya, Perubahan! Itulah prase yang digunakan untuk menangkap sebagian besar tujuan tersebut. Sehingga ada dan diperlukannya konsistensi mawas diri. Konsistensi terhadap sebuah jalan: cita-cita dan masa depan. Konsistensi akan sebuah keputusan dan tindakan. Juga, Konsistensi dalam berkasih sayang; tidaklah mudah ketika harus menyelam tanpa dahulu harus menghela napas seraya memberikan udara bagi kehidupan sekitar. Karena tanpa konsistensi dalam mempertahankan cinta, tidaklah mungkin terciptanya kesetiaan itu.

...Untukmu, segores sastra tanpa nama... yang berduri, yang tajam, dan yang terkadang tertatih atau bagai teratai yang menusuk hati. Tiada lupa pun duka adanya kini, meski untaian cinta hanya tinggal teratai yang kering; tiada suka pun kiranya, meski sulit adanya namun tampak adanya bercahaya tatkala asam pahit tertera dalam kalam hingga bencana. Ya, bersama seribu tarian kejam dan pena, bersama nyanyian sajak lama juga rindu, segaris dan setitik yang berasal dari dalam kalbu, yang tak akan pernah layak untuk padam itu tak akan kubiarkan padam! Karena cinta, bagai teratai sajak yang selalu indah yang tumbuh dalam kalam –lalu dengan pena Tuhan menulis sajak: “Inilah Kalam Kehidupan,” setangkai pena yang dengan cinta dan kesetiaannya, juga rindu, seringkali terdapat menghiasi kalbu.



TENTANG MIMPI

Tentang mimpi dan apa yang aku miliki
Itu adalah jiwa-jiwa yang terbang di malam hari
Mencari apa yang belum ia temukan.
Tentang apa yang aku miliki
Hanyalah harapan untuk membawamu terbang bebas!

Bekasi, 2 Nopember 2007


Barangkali dulu saya harusnya mengucapkan dan melakukan: “Bukan karena cinta (wanita) senyum itu ada! Dan bukan karena wanita (cinta) lantas kesempurnaan hakiki dan kebahagiaan manusia itu mengalir deras adanya!” Dan barangkali memang seperti adanya, segalanya harus dipertimbangkan, agar ucapan tak melaknati dirinya sendiri, dan agar kebahagian sepertinya (itu) tetap berdiri:

Atau bagai bunga-bunga yang tumbuh penuh dengan anugerah, ia... yang membuat luluh lantas hati menyerah padanya, seraya merasa-mengucap bahagia, lalu menjelma aku bak Bidara gagah perkasa. Atau, seperti melati yang tertanam di kudapan abadi Sang Bidadari –ya, dialah memang yang memancarkan aura bidadari itu. Dan tentunya, agar kebahagiaan itu semakin nyata menjadi:

Tentang Mimpi dan hari kemarin
yang kini pagi telah membelahnya
Menjaga apa yang didapatkan.
Tentang hari ini yang aku lalui
Hanyalah langkahku untuk selalu menjagamu.

Bekasi, 13 Desember 2007



Atau tersipu ketika kukecup atas sementara waktu... seperti ini:
“Jika semua wanita adalah bidadari, maka engkaulah Sang Bunda Keindahan
yang melahirkan seribu bidadari serta menurunkan keindahannya.”

Sungguh, ini terasa amat hina jika cinta dapat diukur sesuatu yang ada di antara waktu dan harta! Dan sungguh ini terasa memilukan dalam malu saat cinta harus dilumuri dengan ambisi dan keinginan semata.

Bukankah sementara waktu dan masa itu, sementara kehidupan dan kehidupan setelah kematian, akan selalu ada dan ditumbuhi karena cinta, dan untuk cinta.

“Jika aku menangis, maka air mataku adalah
sebentuk cinta yang menjauhkanmu dari pahit dan kesedihan.
Dan jika aku terluka, maka darahku
tak lebih dari sekedar pengorbanan agar kau tetap bahagia jauh dari duka.”

Karawang, 4 Maret 2008



Seperti melayang namun tak terbang,
kau buat hidupku seakan jauh lebih berarti.
Dan dalam kesunyian yang sebelumnya kurasakan penat,
kau buat kedamaian di dalam hatiku.
Kau seakan menjadi auteur
kisah cintaku,
yang tak ternilai begitu indahnya.


Cinta, meski tak selamanya harus hidup bersama.


Dalam Lembaran "Teratai Sajak Berduri"
Fariz Huzairi,
di Jakarta, 6 Maret 2013
read more

25 Februari 2013

Puisi Cinta Untuk Ibu

Puisi Cinta Untuk Ibu

Tertegun ingatan saat kubuka halaman diariku
Ada setitik pahit yang kubaca, saat kuraba, hingga kemudian terpikir masa laluku
sedalam kalbu
Menyeruat, menyulap beringas hinggapkan getir pedih masa kelamku

Namun rintihan melodi kehidupan menawanku dari keterbebasan hasrat
yang tampak nyaris keterbatasan pun melekat, seolah tak lagi berdawai semangat
Kudekap pedih semakin sakit, kutahan rindu pun semakin pilu,
hingga kubiarkan namun rasanya tak sanggup  kulewati hari hingga berlalu

Ibu... semakin pedih aku,
....

Kesadaran pun tak merubah selain kehadiran yang masih dicitakan
Kesadaran pun tak merubah selain penyesalan dan pengharapan
Dan kesadaran pun, seperti anjing serigala yang melolong di malam pesta perkawinan

Lantas dalam maya kumencarimu
sepenggal nama yang mungkin dapat kutemukan di sana
yang berharap, sepenggal kabar kurasai sejukan hati meski selama mengingatnya

Hingga pada malam kemudian selira menyerah dan berdoa
Selira pasrah dalam lemah tak berdaya
Dan selira memohon ampunan kepada Sang Pencipta

Ibu... semakin menyesal aku,
....

Seharusnya akulah anakmu, yang berdiri tegak tanpa sesak
Yang runcing melawan keras kehidupan seiring memuncak
Mengubur hina mengumbar bangga, bukan malah menggores laknat!
Bukan aku malah mendawai larat!

Ibu, semakin tertegun saat kubaca halaman itu
Saat terbayang engkau masih bersamaku
Dalam satu ruang yang satu
Hingga tetes kini laksa menoreh azab siksaku



Oleh: Fariz Huzairi, di Jakarta, 25 Februari 2013,
dalam coretan sastra Puisi Cinta Untuk Ibu.
read more

24 Februari 2013

Untuk Cinta Dengan Doa

Antologi Puisi. Antologi Sastra Berduri, “Untuk Cinta Dengan Doa
Sebuah goresan pena klasik yang menjerit, sebagai antologi kehidupan dalam diri yang terlantun menjadi sebua syair berbentuk puisi.


“Untuk Cinta Dengan Doa”

Terkadang rindu menjadi ombak
yang menghalauku di saat lajuku,
juga rinduku.
--
“Untukmu... rinduku yang sampai detik ini
masih belum aku mengetahuinya.”
--
Kesempurnaan itu masih saja selalu terlintas dalam benak, juga penat
Seperti menggiringku ke suatu tempat
yang entah,
yang entah membuatku rasanya selalu takut dan gelisah,
yang membuatku pada akhirnya harus memikirkan semua itu di sana.
Ya, di malamku yang selalu dipenuhi sunyi menanti rasa-nya.

Demikian syair lagu indah, membuat cinta memahkotai sang Insan akan pesona keindahan
Atau seperti denting hujan di kala bintang dan rembulan
menghiasi ketulusan dua insan di syurga yang saling mencinta.

Rasa di rasanya. Aku tak pernah tahu, karena di rasaku,
sepertinya yang ada masih hanya akan selalu gelisah
Dan di rasaku, yang aku tahu rasanya seperti taburan debu yang menghantam ombak,
yang kemudian hilang,
lenyap,
atau seperti pohon
yang patah,
atau kering,
atau bahkan yang tandus,
yang akarnya tak mungkin lagi menyempurnakan kehidupan seperti sebelumnya.

Seperti rindu itu, doaku,
juga seperti doa itu
Untuk cinta,
untuk satu cinta yang masih juga belum aku tahu
di mana akhirnya aku kan berlabuh dengan setia...


Oleh: Fariz Huzairi, di Jakarta, 24 Februari 2013.
Antologi Puisi Sastra Berduri,  “Untuk Cinta Dengan Doa” merupakan ranngkaian puisi "Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia" dalam kumpulan puisi Sastra Berduri.
read more

20 Februari 2013

Terlampau Merindukanmu, Ayah


Puisi Terlampau Merindukanmu, Ayah
Karya Pena Sastra Berduri Indonesia





bergetar tubuhku di teriknya waktu

bergemuruh rindu kubaca seorang diri, memburu
menatap angin yang sunyi berhalang
di antara dua ruang

bahkan lebih
di sudut malam yang hanya nampak angan mati
di sepasang semangat dan sisa-sisa mimpi

di mana? tak berteriak engkau di telingaku, juga tak berkibar
langkahmu tak menyuarakan hidupku. Ayah...
engkau di mana, Ayah? Dengar!
Bayimu kini telah dewasa

maka pulanglah
menderu dingin dengan hangatmu
meski di sepertiga malamku yang hampir habis
dan bacalah sisa-sisa air mataku!




Terlampau Merindukanmu, Ayah
Karya Pena Sastra Berduri Indonesia
[fh] 9 April 2010
read more

Ketika Kabar Duka Membunuh Malam Pertama

Puisi Ketika Kabar Duka Membunuh Malam Pertama
Karya Pena Sastra Berduri Indoesia

telah habis terhapus senja
terpupuk rindu, cintaku
setelah sang mentari garang kunikmati lara
di langit sendu menatapku

kasih,
sesungguhnya bulan purnama itu ada
dan malam senantiasa bersenandung

di syahdunya senyuman
di tepian rindu yang hampir berkilauan
semua itu ada!
di indahanya kisah yang kini berakhir, seketika

kasih,
bukan malam pertama yang kunikmati kini
pun sang rembulan, tak kuasa bersinar untukku
sebab ragamu kini tak lagi menyimpan jiwa



[fh] 13 April 2010
Ketika Kabar Duka Membunuh Malam Pertama
Karya Pena Sastra Berduri Indoesia
read more

Tentang Mimpi [2]

tentang mimpi dan hari kemarin,
yang kini pagi telah membelahnya
menjaga apa yang didapatkan
tentang hari ini yang aku lalui,
hanyalah langkahku untuk terus menjagamu



[fh] 13 Desember 2007
read more

Tentang Mimpi [1]

tentang mimpi dan apa yang aku miliki,
itu adalah jiwa-jiwa yang terbang di malam hari
mencari apa yang belum ia temukan
tentang apa yang aku miliki,
hanyalah harapan, untuk membawamu terbang bebas



[fh] 2 Nopember 2007
read more

Tentang Malam

tentang malam yang tak pernah berakhir
aku terjaga bagaikan sang Penjaga Waktu
yang bertanya dengan kebisuannya...
tentang malam,
ketika pagi menguliti kegelapan
bayangnya berjalan di antara siang
hingga langit menangis tersedu,
sedangkan pelangi itu adalah kebisuan yang terpancar
dan bayang itu adalah dirimu.



[fh] 6 Desember 2007
read more

18 Februari 2013

Sang Bayu Berlalu Dalam Debu

Ketika mata ini memandang keindahan
Meresap asa, berbisik kata dalam hati
Mengalir… menelusuri ruang jiwa yang sunyi
Seiring waktu yang berlalu,
hingga hasrat pun ingin memiliki

Namun adakah cinta yang tersembunyi,
di antara pandangan dan wujud keindahan?
Jika ada cinta,
Semua itu tak lain hanyalah fatamorgana
Karena cinta bukanlah sang bayu yang berhembus
Yang berlalu menyisakan debu dalam pandangan

Cinta sejati tak pernah menyesali ketiadaannya
Sekali pun yang di cinta tak lagi terlintas dalam pandangan
Baik ada maupun tiada,
Cinta sejati tak pernah membutuhkan wujudnya
Karena cinta, telah abadi dalam kesejatiannya



[fh]
read more

Di Tanah Gersang Musim

Ketika tanah gersang oleh musim, aku tiba di pintu
desa kelahiranku. Berjalan
mendatari pasir dan kabut debu
membawakan mimpi yang usai dicetak
untuk Ibu.

Dari rantau panjang aku kembali
Di bawah kibar awan kemarau, tak tahan
rindu mengajakku berlari,sambil memaki sungai pasang yang keruh
Angin terasa turun dari pelayarannya
dan aroma terik hening tiba-tiba

Warga tergagap berhambur tak karuan, seketika
di sungai pasang air meluap
meloncat-loncat ke tanah,
membunuh debu-debu, tanpa tatakrama
bertamu ke dalam rumah-rumah

“Air lepas dari ibunya!”
Dari timur datangnya arus menyelinap
Semakin kencang saja aku berlari! Mencari Ibu,
melawan arus yang datang mengombak
dan gelap…



[fh]
read more