Antologi Puisi. Antologi puisi Sastra Berduri yang berjudul “Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia”
Sebuah goresan pena klasik yang menjerit, sebagai antologi kehidupan dalam diri yang terlantun menjadi setangkai puisi, dipersembahkan untuk mereka yang memiliki perasaan abadi, yang membulatkan tekadnya untuk selalu mensucikan cinta sejati.
Antologi Puisi, Karya Pena Sastra Berduri
"Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia"
Awalnya sungai, hingga ke lautan;
Seribu anak sungai bahkan menuju samudera...
Awalnya kering hingga membanjiri, padahal bunga telah merekah dan
harumnya pun sudah tinggal sampai di mata-mata.
Guratan nasib tidak membungkus sarapan yang telah lalu,
juga tidak membawa makanan untuk hari yang tak pernah ada,
hanya saja takdir yang membatasi nafsu untuk merangkul dan memikul,
namun tidaklah ia menahanmu untuk tetap bersahaja.
Derita jika kau katakan, “Ini derita!”
Dan duka jika kau nyatakan, “Ini rasanya!”
Namun cinta, sungguh! Jika kau pahami cinta, jauh dari apa yang telah kau lihat selama di dunia ini,
selama hidupmu, cinta, tak pernah membawa apa-apa...
kecuali nurani dan hatimu yang menjiwainya!
Dan sungguh, kuungkap semua ini bukan karena nasib atau takdir yang mencengkeramku,
atau juga karena pandang-jiwaku, melainkan karena aku menatapnya;
karena aku menyantapnya dengan jiwaku,
dan inilah bahwasannya:
Sungai takkan sampai jika tak ditakdirkan untuk selalu merindukan samudera,
juga lautan takkan tenang jika saja ombak tak menghiasi damainya.
Seperti apa yang kau lihat
pada setangkai bunga mawar itu, yang telah tumbuh dan lalu meninggalkan masanya,
bukankah tak berarti itu tanpa arti, jika harumnya sempat menghiasi dunia!
Oleh Fariz Huzairi, di Jakarta, 20 Februari 2013.
Dalam Antologi Puisi Sastra Berduri yang berjudul “Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia”
Sebuah Coretan Sastra dalam Antologi Puisi, Karya Pena Sastra Berduri.
Sebuah goresan pena klasik yang menjerit, sebagai antologi kehidupan dalam diri yang terlantun menjadi setangkai puisi, dipersembahkan untuk mereka yang memiliki perasaan abadi, yang membulatkan tekadnya untuk selalu mensucikan cinta sejati.
Antologi Puisi, Karya Pena Sastra Berduri
![]() |
| Antologi Puisi Sastra Berduri, Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia |
"Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia"
Awalnya sungai, hingga ke lautan;
Seribu anak sungai bahkan menuju samudera...
Awalnya kering hingga membanjiri, padahal bunga telah merekah dan
harumnya pun sudah tinggal sampai di mata-mata.
Guratan nasib tidak membungkus sarapan yang telah lalu,
juga tidak membawa makanan untuk hari yang tak pernah ada,
hanya saja takdir yang membatasi nafsu untuk merangkul dan memikul,
namun tidaklah ia menahanmu untuk tetap bersahaja.
Derita jika kau katakan, “Ini derita!”
Dan duka jika kau nyatakan, “Ini rasanya!”
Namun cinta, sungguh! Jika kau pahami cinta, jauh dari apa yang telah kau lihat selama di dunia ini,
selama hidupmu, cinta, tak pernah membawa apa-apa...
kecuali nurani dan hatimu yang menjiwainya!
Dan sungguh, kuungkap semua ini bukan karena nasib atau takdir yang mencengkeramku,
atau juga karena pandang-jiwaku, melainkan karena aku menatapnya;
karena aku menyantapnya dengan jiwaku,
dan inilah bahwasannya:
Sungai takkan sampai jika tak ditakdirkan untuk selalu merindukan samudera,
juga lautan takkan tenang jika saja ombak tak menghiasi damainya.
Seperti apa yang kau lihat
pada setangkai bunga mawar itu, yang telah tumbuh dan lalu meninggalkan masanya,
bukankah tak berarti itu tanpa arti, jika harumnya sempat menghiasi dunia!
Oleh Fariz Huzairi, di Jakarta, 20 Februari 2013.
Dalam Antologi Puisi Sastra Berduri yang berjudul “Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia”
Sebuah Coretan Sastra dalam Antologi Puisi, Karya Pena Sastra Berduri.

mudah diresapi, keren..
BalasHapus