23 Februari 2013

Memahami Sastra Indonesia

Sastra Indonesia, sebuah identitas karya sastra untuk segala macam sastra dan kesusastraan yang tumbuh dan berkembang di Asia Tenggara. Berikut penjelasan singkatnya mengenai Pemahaman Sastra Indonesia berdasarkan pengertian dan perkembangannya.

Memahami pengertian Sastra Indonesia, sebagai salah satu penalaran pokok yang dilakukan sastrawan maupun seniman sastra itu sendiri terhadap karya sastra pada umumnya. Sastra Indonesia itu sendiri merupakan sebuah istilah untuk berbagai macam karya sastra berbahasa melayu yang umumnya merujuk pada macam sastra di Asia Tenggara.  Istilah “Indonesia” mengandung makna yang lebih mengkhususkan pada lingkup karya sastra yang berada di wilayah Kepulauan Indonesia, yang secara geografis dan perkembangannya identik dengan adat, kebudayaan serta perkembangan masyarakat di Indonesia.

Secara bahasa, Sastra Indonesia sebenarnya merupakan suatu karya sastra yang dihasilkan dan diciptakan berdasarkan perkembangan kebudayaan dan kehidupan masyarakat di Indonesia, yang lebih menekan-khususkan pengertiannya untuk segala macam karya sastra yang berkembang di Indonesia saja. Namun, jika diartikan berdasarkan perkembangannya dewasa ini --setelah mendapat pengaruh berdasarkan kebudayaan dan urutan waktu pada jamannya, “Sastra Indonesia” memiliki makna yang lebih dispesifikasi, yakni suatu karya sastra yang mencakup segala macam sastra baik lisan maupun tulisan berdasarkan kehidupan masyarakat dan perkembangan budaya keindonesiaan.


Pengaruh dan Perkembangan Sastra di Indonesia Dewasa Ini.
Dalam kasus ini, di mana setiap karya sastra baru yang tumbuh dan peka terhadap jaman terutama pengaruh modernisai, masih memiliki interpretasi yang tinggi yang terkandung pada nilainya (sastra) namun lebih meluas alurnya pada kebudayaan dan bangsa Indonesia yang didominasi oleh substansi sastra dengan pengaruh kebudayaan asing yang merasuk. Sehingga pemahamannya pun, yang menitik-beratkan pada substansi pokok kandungannya sebagai manifestasi karya sastra, telah mengejawantah dan tumbuh mengakar pada kehidupan bermasyarakat masyarakat indonesia sebagai alinea sastra baru atau sastra modern. Inilah penyebabnya mengapa sastra selalu memiliki pengertian atau makna yang variabel, baik pengertian sastra pada umumnya maupun kesusastraan (sastrawi) sebagai substansi dasar penciptaannya segala macam karya sastra, yang pengaruhnya terdapat pada isi karya sastra itu sendiri.


Sumber dan Inspirasi:
Alhamdulillah, akhirnya saya ucapkan terima kasih kepada Wikipedia [Sastra Indonesia], Asem Manis [Dunia Bahasa dan Sastra Indonesia], dan beberapa teman blogging lainnya yang (mohon maaf) tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Saya ucapkan terima kasih banyak karena telah memberikan inspirasi dan bahan untuk catatan singkat Memahami Sastra Sebagai “Sastra Indonesia” sebagai bentuk ungkapan serta wujud kecintaan saya terhadap Sastra Indonesia.
read more

22 Februari 2013

Sastra Sebagai Kebebasan Dalam Berfilsafat

sastra sebagai kebebasan dalam berfilsafat
[image cropped from google]
Sastra sebagai kebebasan dalam berfilsafat. Ini yang tampaknya seringkali terlupakan, bahwa pada hakikatnya sastra berasal dari suatu jalan pemikiran dan proses refleksi di mana kehidupan dan manusia yang menjadi objeknya. Sehingga kemudian terciptanya suatu karya (cipta), baik lisan maupun tulisan, yang di dalamnya terkandung suatu pemikiran atas pencitraan dan  penggambaran alam kehidupan yang dituangkannya ke dalam suatu karya. Maka menjadi lazim, jika di dalam setiap karya sastra selalu terkandung ide-ide dasar serta sudut pandang yang jika diungkap terdapat adanya suatu pemikiran filsafati sebagai ide (konsep) dasar penciptanya.

Dan meski memiliki perbedaan yang signifikan di antara keduanya, sastra dan filsafat tidak akan pernah terpisahkan.


Sastra yang merupakan suatu karya, baik lisan maupun tulisan, yang diciptakan berdasarkan daya akal (kemampuan nalar) dalam menalarkan pengalaman sebagai interpretasi atas jalan pemikirannya, entah bersifat khayali maupun fakta. Sebagaimana yang didefinisikan oleh Plato: bahwa “Sastra merupakan hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan. Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide.”

Plato yang menegaskan bahwa nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide, dikarenakan sastra memang bukanlah gagasan utuh melainkan pengungkapan atau pencitraan yang dilakukan si pencipta mengenai objeknya, yakni alam kehidupan. Begitu pula dengan yang diungkapkan oleh Supardi: bahwa “Sastra merupakan lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial.” Sehingga nampaklah pengertian yang mendefinisikan sastra, di mana ada daya akal (nalar) yang berfungsi untuk menjalankan suatu proses pengaitan antara kenyataan dan pencitraan (gambaran) yang dilatarbelakangi oleh gagasan pokok (ide dan sudut pandang filsafati) pada suatu karya yang juga berlandaskan pada alam kehidupan dan manusia sebagai objeknya.

Sedangkan filsafat, merupakan suatu usaha pemikiran yang bersifat radikal dengan unsur-unsur keutuhan objeknya yang luas (yang ada dan yang mungkin ada) yang mana bertujuan untuk mengungkap segala hakikat dengan hakiki. Filsafat tidak mengindahkan nilai-nilai estetika sebagaimana yang terdapat pada karya sastra. Bahkan filsafat tidak memandangnya ada (nilai estetika tersebut) ketika sesuatu yang hakiki yang menjadi dasar tujuan dalam menemukan pemahaman tertentu yang hakiki. Sehingga akhirnya estetika itu sendiri kemudian menjadi satu pandangan khusus (bidang ilmu) yang dicari kehakikiannya.

Banyak filosof-filosof yang mendefinisikan filsafat secara maknawi yang mana pada hakikatnya filsafat itu sendiri menjadi suatu bagian pokok bagi semua ilmu yang dilahirkannya kemudian.

Dan jelaslah pula, bahwasannya sastra dan filsafat merupakan dua hal yang berbeda namun tak dapat dipisahkan. “Ibarat dua sisi mata uang, di mana yang satu tidak dapat dipisahkan dari permukaan lainnya; di mana sifatnya yang komplementer, saling melengkapi,” begitu kata Maman S. Mahyana, dalam artikelnya yang berjudul Hubungan Sastra dan Filsafat.

Namun, jika ditilik berdasarkan nilainya, tentu saja tidak bisa disamakan pula, di mana seorang seniman sastra maupun sastrawan yang membatasi radikalistisnya dengan menahan diri pada pengambilan sub-ide atas ide (konsep manusiawi) yang terbentuk berdasarkan pengalaman dan kemampuan nalarnya untuk segera dilakukan pengambilan kesimpulan berupa pengungkapan, pencitraan dan sebagainya. Adapun seorang filosof sudah tentu dia akan mendapati dirinya menjadi seorang seniman sastra atau bahkan sastrawan ketika di mana ia harus menuangkan hasil pemikiran radikalnya (ide) ke dalam bahasa maupun tulisan, atau bahkan di saat ia harus menelusuri makna hakiki tentang sastra itu tersebut beserta segenap cabang ilmu di dalamnya, sedangkan sifat pemikirannya yang radikalistis (filosofis) tidak akan lepas selama membentangkan makna filosofisnya sedalam dan seakurat mungkin, yakni sampai pada menghasilkan satu kebenaran yang bisa dibenarkan.


Kesadaran seseorang dalam menuliskan suatu karya sastra maupun karya tulis umumnya, sangat menentukan untuk menunjang kebutuhan tujuannya itu sendiri; di mana nalar menjadi dasar dan daya pikir (pengaitan, penerapan, pencitraan) menjadi unsur sehingga terciptanya kualitas yang dapat diukur dengan logika dan rasio. Dan karena itu pula, maka mulai dari karya sastra (sastra) hingga seorang sastrawan sekalipun, mereka adalah seorang filosofis yang menumpahkan idenya ke dalam bahasa lisan maupun tulisan. Ide yang pada awalnya berasal dari proses refleksi atas kehidupan dan manusia sebagai objek vitalnya, lalu kemudian menjadi suatu alur yang dialiri seni sehingga terciptalah sebuah karya sastra yang telah mengandung sudut pandangan dan karakter si pembuatnya.

Itulah yang pada akhirnya mampu membawa realitas ini menuju kehidupan besar. Sebuah pemikiran yang jenius. Sebuah radikalisme yang tumbuh di bawah logika dan rasionalisme yang tinggi, sehingga segala sesuatunya selalu mendasar dan bertujuan untuk saling melengkapi. Melalui pemikiran yang filosofis itulah, kehidupan akan menjadi seni yang memukai bagai karya seni seniman sastra, di mana telah ditemukan di dalamnya sastra sebagai kebebasan dalam berfilsafat.
read more

21 Februari 2013

Hancurnya Kehidupan Perdamaian Manusia

Kehidupan perdamaian manusia tengah terusik dan mengalami kehancuran. Ketidakseimbangan hidup telah menimbulkan pertentangan antar golongan tertentu. Sebagai bukti kekerasan yang terjadi dengan mengatasnamakan Islam, sehingga kontroversi disetiap kalangan memicu terjadinya kerusuhan yang semakin serius. Seperti yang dikutip dalam majalah Muslimah edisi 09 tahun 2003, hingga pada akhirnya Islam disalah mengerti karena selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah oleh musuh-musuh Islam, dan terkadang orang Islam sendiri yang tidak memahami Islam.

    Hancurnya kehidupan perdamaian manusia tersebut disebabkan oleh manusia itu sendiri. Berawal dari individu yang kemudian berdampak pada lingkungan. Lemahnya keyakinan terhadap Tuhan menjadi alasan tepat, sehingga kehidupan antar sesama menjadi persaingan kotor demi mendapatkan kejayaan dan keuntungan bagi diri sendiri.

    Menurut ulama Sufi jaman dahulu, kerusuhan di dunia ini terjadi disebabkan oleh dua keadaan. Pertama, karena manusia itu tidak percaya adanya Tuhan. Kedua, karena manusia itu terlalu mencintai dirinya sendiri. Bagaimana seseorang dapat mencintai agamanya, sedangkan ia tidak mengerti dan tidak memahami agamanya. Begitu pula dengan seseorang yang tidak memiliki keyakinan terhadap Tuhan, mana mungkin ia dapat mengenali Tuhannya dengan baik. Jika sudah demikian, manusia itu tidak akan patuh dan tidak akan takut terhadap perintah-perintah dan larangan-larangan Tuhan.

    Sedangkan sebab yang kedua mengakibatkan manusia itu menjadi serakah, mencintai harta yang berlimpah, mencintai kedudukan yang tinggi, mencintai nama yang harum dan masyhur, mencintai anak isteri yang berlebih-lebihan, dan bahkan menjadikan manusia di sekitarnya sebagai lawan saing yang harus ditumbangkan. Hal demikian membawa manusia kepada kecintaan yang sangat kepada dunia dan ingin hidup kekal di dalamnya. Padahal, setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati.

    Kesenangan yang mereka rasakan tidak akan berlangsung lama. Segala yang mereka cintai tidak akan membawanya kepada kebahagiaan hakiki. Sebagaimana firman Allah swt., “Katakanlah, kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat lebih baik untuk orang-orang bertakwa.” (QS. An-Nisaa`: 77)
    Dan firman Allah swt., “Dan tiadalah kehidupan di dunia ini hanya permainan dan senda gurau belaka, dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS. Al-An`aam: 32)

    Dalam surat Al-Hasyr ayat 18, Allah swt. juga berfirman, “Dan hendaklah setiap diri (seseorang) memperhatikan apa yang dipersiapkan untuk hari esok.” Maksudnya, hendaknya setiap orang memperhatikan apa yang diperbuatnya itu, bermanfaat ataukah tidak. Sebagai investasi untuk hari yang akan datang, yaitu akhirat.

    Namun, kebanyakan manusia itu sibuk menumpuk harta, padahal hartanya tersebut tidak akan dibawanya ketika meninggal. Atau, ada juga yang sibuk berlomba-lomba mengejar kedudukan yang tinggi. Padahal, belum tentu juga apa yang dikejarnya itu dapat memberinya kebahagiaan di akhirat kelak.

    Hati dan pikiran mereka telah digelapkan oleh hawa nafsu. Sedangkan, kecintaannya kepada dunia yang berlebih-lebihan itu membuatnya melupakan akhirat dan selalu sibuk dengan urusan duniawi. Mereka pun menjadi tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram. Penyakit hatinya tersebut terus menggerogoti dan menyeretnya kepada kekufuran kepada Allah Swt. Padahal, matinya hati adalah lebih keji dan celaka daripada matinya jiwa manusia yang tak lepas dari dosa.

    Imam Al-Ghazali berkata dalam kitab Mukhasyafatul Qulub, “Sesungguhnya hawa nafsu yang mengarahkan manusia kepada kejahatan, dan ia lebih jahat daripada iblis”. Karena, hawa nafsu yang dijadikan sebagai senjata oleh setan itu hanyalah menipu manusia dengan angan-angan kosong dan kesenangan sesaat, yang akhirnya menjerumuskan manusia kepada kesesatan.

    Tidak ada lagi solidaritas terhadap sesama, hilangnya rasa saling menghargai antar sesama manusia, dan lenyapnya rasa cinta dan persaudaraan kepada sesama. Lebih dari itu, hancurnya suatu bangsa akibat dari rusaknya akhlak dan moral manusia itu sendiri. Sehingga dampaknya dirasakan pula oleh semua orang, baik disadari ataupun tidak.

    Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan bodoh”. (QS. Al-Ahzab: 72). Kezhaliman manusia yang tiada lain hanyalah menzhalimi dirinya sendiri. Sebab, setiap apa yang diperbuat manusia hanyalah untuk manusia itu sendiri, baik amal yang baik maupun amal yang buruk. Sedangkan Allah swt. hanya akan menghakimi manusia itu dan membalasnya dengan pahala ataukah siksa.

Firman Allah swt., “Apa saja kebaikan yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpa kamu adalah dari (kesalahan) dirimu sendiri. Dan Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai Rasul bagi seluruh manusia, dan cukuplah Allah menjadi saksi”. (QS. An-Nisaa`: 79)

    Semua itu merupakan sebab-akibat hancurnya kehidupan perdamaian manusia yang berasal dari kehidupan manusia itu sendiri yang zhalim. Tidak dapat dikatakan mutlak sebagai takdir Allah swt., karena Allah swt. telah menurunkan kebenaran melalui petunjuk rasul-Nya untuk diikuti oleh semua umat manusia. Yaitu Islam, yang diturunkan sebagai agama Allah yang cinta damai. Di dalamnya terdapat kebenaran hakiki yang memanusiakan manusia menurut fitrah yang sebenarnya. Maka sesatlah manusia yang tidak mengikuti petunjuk kebenaran tersebut.

    Firman Allah swt., “Dan sungguh Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat (kebenaran), dan tidak ada yang ingkar kepadanya kecuali orang-orang yang fasik (durhaka)”. (QS. Al-Baqarah: 99)

    Rasulullah saw. bersabda, “Allah menciptakan rasa kasih sayang itu seratus bagian. Yang sembilan puluh sembilan disimpan di sisi-Nya, sedangkan yang satu bagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bagian itulah para makhluk saling berkasih sayang, sehingga kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya terinjak”. (Shahih Bukhari terjemah kitab At-Tajridush Sharih)

    Karena itu, sudah menjadi keharusan sebagai manusia untuk menjaga dan memelihara perdamaian di muka bumi ini. Mengendalikan kehidupan dengan sikap normal dan sewajarnya, sehingga terbentuklah kehidupan yang seimbang dan penuh dengan kasih sayang. Sebagaimana yang dikatakan oleh H. Aboebakar Atjeh dalam buku Pengantar Ilmu Tarekat, “Bahwa perdamaian itu adalah perseimbangan, jika perseimbangan itu tidak terdapat maka terjadilah pertentangan antara pribadi seorang manusia dengan manusia lainnya”.

    Perseimbangan yang dimaksud ialah seimbangnya unsur-unsur penggerak kehidupan ruhani manusia. Seperti pendapat yang dikemukakan orang Sufi terdahulu, bahwa kehidupan lahir itu hanya merupakan akibat dari apa yang dilakukan manusia. Sedangkan kehidupan manusia digerakkan oleh tiga pokok, yaitu syahwat (hawa nafsu),    `aqal (akal), dan ghadhab (kegiatan). Jika ketiganya itu seimbang, maka hidup manusia menjadi normal dan wajar. Dengan kata lain, jika ketiganya ini dapat dikuasai dengan baik maka tidak akan ada salah satunya yang berlebihan. Karena, jika salah satunya melebihi yang lain (tidak seimbang), maka kehidupan manusia itupun menjadi abnormal atau tidak wajar.

    Namun, ketiga unsur penggerak kehidupan ruhani manusia itu berasal dari yang satu, yaitu syahwat. Syahwat atau hawa nafsu itulah yang menyebabkan timbulnya keinginan hingga kemudian menggerakkan kehidupan manusia. Dengan demikian, jika hawa nafsu itu berlebihan maka keinginan yang timbul pun menjadi tidak wajar bagi kehidupan seorang manusia.

    Manusia itu sendirilah yang menentukan apakah ia akan menjadi manusia yang baik atau buruk. Sebagaimana firman-Nya, “Allah tidak menjadikan seseorang dua hati di dalam rongganya”. (QS. Al-Ahzab: 4). Bahwa Allah swt. Tidak menciptakan kebaikan dan keburukan sekaligus secara utuh bersamaan keduanya di dalam hati seseorang. Namun, kembali kepada manusia itu sendiri bagaimana mengendalikan dan mengarahkan syahwatnya sehingga membentuk hati yang baik ataukah buruk.

    Sedangkan syahwat tidak akan sempurna dikendalikan tanpa adanya akal dan ghadhab. Adapun ilmu, merupakan syarat mutlak penghidupan yang dicerna oleh akal sehingga melahirkan akhlak yang sempurna bagi seorang manusia. Sebagai contoh, akhlak yang mulia para Sufi tidak akan terbentuk tanpa adanya ilmu dan pengendalian hawa nafsu. Maka lahirlah hasilnya, kehidupan perdamaian manusia yang tentram dan sejahtera.

    Tidak ada istilah keterlambatan dalam melakukan perubahan. Sebelum terbitnya matahari dari barat dan penyesalan yang tiada gunanya, saat kehancuran besar menghentikan putaran waktu. Dengan memulainya dari diri sendiri (individual) demi terciptanya sebuah perubahan dari yang tidak baik menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik, dan dari yang benar untuk terus menebarkan kebenaran. Dan ingatlah yang difirmankan Allah swt., “Inilah yang telah dijanjikan kepada setiap orang yang selalu kembali kepada Tuhan dan senantiasa memelihara fitrah dan amal perbuatannya, yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Dalam keadaan menyendiri datang (kepada Allah) dengan hati bertaubat”. (QS. Qaaf: 32-33)


Ditulis Oleh: Fariz Huzairi
Artikel Hancurnya Kehidupan Perdamaian Manusia ini telah diterbitkan di www.karawanginfo.com dengan judul yang berbeda.
read more

Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia

Antologi Puisi. Antologi puisi Sastra Berduri yang berjudul “Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia”
Sebuah goresan pena klasik yang menjerit, sebagai antologi kehidupan dalam diri yang terlantun menjadi setangkai puisi, dipersembahkan untuk mereka yang memiliki perasaan abadi, yang membulatkan tekadnya untuk selalu mensucikan cinta sejati.
Antologi Puisi, Karya Pena Sastra Berduri

antologi puisi sastra berduri
Antologi Puisi Sastra Berduri, Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia


"Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia"

Awalnya sungai, hingga ke lautan;
Seribu anak sungai bahkan menuju samudera...
Awalnya kering hingga membanjiri, padahal bunga telah merekah dan
harumnya pun sudah tinggal sampai di mata-mata.

Guratan nasib tidak membungkus sarapan yang telah lalu,
juga tidak membawa makanan untuk hari yang tak pernah ada,
hanya saja takdir yang membatasi nafsu untuk merangkul dan memikul,
namun tidaklah ia menahanmu untuk tetap bersahaja.

Derita jika kau katakan, “Ini derita!”
Dan duka jika kau nyatakan, “Ini rasanya!”
Namun cinta, sungguh! Jika kau pahami cinta, jauh dari apa yang telah kau lihat selama di dunia ini,
selama hidupmu, cinta, tak pernah membawa apa-apa...
kecuali nurani dan hatimu yang menjiwainya!

Dan sungguh, kuungkap semua ini bukan karena nasib atau takdir yang mencengkeramku,
atau juga karena pandang-jiwaku, melainkan karena aku menatapnya;
karena aku menyantapnya dengan jiwaku,
dan inilah bahwasannya:

Sungai takkan sampai jika tak ditakdirkan untuk selalu merindukan samudera,
juga lautan takkan tenang jika saja ombak tak menghiasi damainya.
Seperti apa yang kau lihat
pada setangkai bunga mawar itu, yang telah tumbuh dan lalu meninggalkan masanya,
bukankah tak berarti itu tanpa arti, jika harumnya sempat menghiasi dunia!



Oleh Fariz Huzairi, di Jakarta, 20 Februari 2013.
Dalam Antologi Puisi Sastra Berduri yang berjudul  “Untuk Cinta yang Malu Karena Dunia”
Sebuah Coretan Sastra dalam Antologi Puisi, Karya Pena Sastra Berduri.
read more

20 Februari 2013

Sebuah Pengantar Kehidupan Besar

Inilah sebuah Anugerah, Sebuah Pengantar Kehidupan Besar!

Kehidupan besar!

Rahasia yang mengagumkan! Ketika setiap anak menyadari apa yang telah dialaminya selama ini(?); atas apa yang telah didapatkannya sejauh ini(?), dan atas apa yang telah diperbuat dan dilakukan serta diusahakannya hingga seusia kini(?); maka untuk apa serta kepada siapa akhir tujuan hidupnya itu diberikan(?).

Inilah kehidupan yang penuh dengan mistik --bagi beberapa orang yang mempercayainya sebagai keajaiban belaka, mistik tidaklah berarti apa-apa selain prasangka dan fanatisme-- di atas moral yang logis dan berlapis kemanusiaan serta ketuhanan yang nyata!

Maka saya mengatakan bahwa kehidupan ini amatlah rasional, tak cukup hanya dengan akal dan logika.

Seperti kehidupan yang sebelumnya saya rasakan yang sangatlah penuh dengan keterbatasan, ternyata memiliki keluasan yang tiada batasnya ketika saya dapat berinteraksi dan berbagi melalui blog ini. Sebuah nikmat yang luar biasa, sebagai karunia dari Sang Pencipta, tiada lain agar kita selalu saling menjaga kehidupan sosial di atas individu sebagai makhluk manusia yang memang tidak memiliki kesempurnaan kecuali dengan cara saling melengkapi demi memenuhi seperangkat kebutuhan dasar untuk melakukan hidup dan terus memahat diri hingga mendapatkan hari esok yang kita inginkan sebaik mungkin: Itulah sekiranya yang menurut saya dinamakan Nilai Sejati!

sastra berduri, sebuah pengantar kehidupan besar
Sastra Berduri, Sebuah Pengantar Kehidupan Besar

Lentera yang terang dan yang terkadang meredup....
Logika yang seringkali dibanggakan oleh seseorang dan sebagian banyak orang ternyata tak membendung akal untuk masuk lebih dalam, yakni melalui rasio yang kita bawa sejak lahir yang ternyata selalu menangkap kesalahan dan kekurangan atas apa yang terlihat sebagai hal yang mengagumkan yang dicipta manusia. Namun sebagaimana kebijaksanaan yang telah Tuhan berikan kepada Manusia terpilih, juga kepada makhluk seluruhnya, bahwa harga dan nilai itu sejatinya adalah untuk dihargai bukan untuk dimunafikkan. Maka itu mustahil jika hasrat tak dapat ditahan, dan jika nurani tak dapat dipergunakan menyertai kesabaran dan kemampuan yang mapan, sebab anak manusia sama dilahirkan dan sama saling bertautan: sebagai rantai kehidupan yang mempertautkan masa yang satu dengan masa berikutnya, antara jaman yang satu dengan jaman selanjutnya, dan antara kehidupan di dunia dengan kehidupan setelah kematian seluruhnya. Inilah Kebijaksanaan Besar: kebijaksanaan untuk saling menghargai, kebijaksanan untuk saling menyadari, serta kebijaksanaan untuk yang tiada pernah mendapat kesempuranaan, di mana hanya jiwa itulah yang tunduk dan patuh pada kekekalan abadi --keabadian atas izin Sang Pemilik kebijaksanaan dan kematian-- baik maupun buruk akhirnya manusia itu.

Dan akhirnya... hanya kepada Sang Penciptalah, penulis tunduk dan mengabdi, seraya memohon pertolongannya agar senantiasa selalu dipertemukan dengan pembaca dan sekawanan manusia yang selalu ingin memperbaiki nilainya tanpa pilih kasih atau membeda-bedakan sesama manusia.



[fariz huzairi] Jakarta, 10 februari 2013
read more

16 Februari 2013

Semangat dan Kerja Keras

semangat kerja keras
[image from ceritatradisi]
 SastraBerduri: Jakarta, 15 Februari 2013
"Hidup itu sulit!" Bisa jadi ini adalah sugesti yang sedikit banyaknya menjadi pengaruh dalam hidup kita, terutama saat kita hendak melakukan sesuatu. Karena kekacauan di dalam pikiran lebih rentan menghancurkan banyak usaha dan seringkali banyak menimbulkan kegagalan dibandingkan kekacauan secara zahir. Misalkan saja, ketika kita hendak mecari buah apel ke suatu rawa yang sangat luas di mana harus melewati banyak pepohonan liar dan belum lagi harus mencari pohon apel itu yang hanya ada beberapa pohon saja. Jika kita memiliki pemikiran bahwa untuk mendapatkan buah apel itu sulit, maka sudah dapat dipastikan kesabaran kita yang akan melemah.

Mengapa kesabaran?

Kesabaran bisa diartikan sebagai sikap yang menahan diri dari emosi batin mau pun emosi zahir (lelah atau kesal akibat keadaan tertentu yang menyudutkan). Kesabaran tentu saja sangat diperlukan, dalam hal apa pun! Karena, tanpa kesabaran kita tidak akan mampu melawan diri dari hawa nafsu ataupun emosi sekecil apa pun itu. Dan sudah bisa dipastikan pula, apa pun usaha yang kita lakukan, jika tanpa kesabaran maka sedikit banyaknya kita akan mengalami tekanan yang membuat tekanan darah menjadi naik dan jalan pikiran serta emosi menjadi tidak stabil.

Perlu diperhatikan, pada saat hendak melakukan suatu usaha maka pertama kali yang harus dilakukan ialah mencari tahu sedalam apa usaha yang akan dilakukan serta sebesar apa resiko yang akan dihadapi. Setelah itu mampu kita pikirkan, maka selanjutnya tinggal kita berusaha untuk meyakini bahwa usaha yang telah kita pikirkan tersebut mampu kita usahakan hingga tuntas. Ingat, hingga tuntas!

Saya amat menyukai sebuah syair yang dinyanyikan oleh Iwan Fals, bahwa "Tujuan itu bukanlah yang utama, melainkan jalannya yang harus diutamakan." Dan memang benar pada kenyataannya bahwa tujuan itu bukanlah apa-apa jika dibanding dengan usaha yang kita lakukan. Meski memang kerapkali tujuan atau hasil yang menjadi hal pokok, namun ada hal yang lebih utama dan lebih pokok, yakni usaha itu sendiri (jalannya).

Secara logika pun, tujuan atau hasil itu memang bergantung pada apa yang kita lakukan; pada seberapa keras usaha yang kita lakukan; pada seberapa besar pengorbanan yang kita pertaruhkan, dan seberapa nilai yang kita jual pada satu pengorbanan. Tentu usaha dan kerja keras ini yang akan mendekati atau sampai pada satu tujuan tertentu, seberapa besar pun hasilnya itu. Jalan akansangat mempengaruhi atas apa yang kita tuju dan kita inginkan.

Pada intinya, buatlah selalu sugesti positif  sebagaimana kita acapkali memberikan support atau semangat kepada orang lain. Karena tujuan dan hasil itu bergantung pada usaha kita sendiri dalam memperjuangkan dan mengusahakannya.



Demikian catatan singkat ini. Semoga sedkit atau banyaknya bisa dijadikan bahan tafakur (berpiikir merenungkan diri).

Salam,
read more