Puisi Cinta Untuk Ibu
Tertegun ingatan saat kubuka halaman diariku
Ada setitik pahit yang kubaca, saat kuraba, hingga kemudian terpikir masa laluku
sedalam kalbu
Menyeruat, menyulap beringas hinggapkan getir pedih masa kelamku
Namun rintihan melodi kehidupan menawanku dari keterbebasan hasrat
yang tampak nyaris keterbatasan pun melekat, seolah tak lagi berdawai semangat
Kudekap pedih semakin sakit, kutahan rindu pun semakin pilu,
hingga kubiarkan namun rasanya tak sanggup kulewati hari hingga berlalu
Ibu... semakin pedih aku,
....
Kesadaran pun tak merubah selain kehadiran yang masih dicitakan
Kesadaran pun tak merubah selain penyesalan dan pengharapan
Dan kesadaran pun, seperti anjing serigala yang melolong di malam pesta perkawinan
Lantas dalam maya kumencarimu
sepenggal nama yang mungkin dapat kutemukan di sana
yang berharap, sepenggal kabar kurasai sejukan hati meski selama mengingatnya
Hingga pada malam kemudian selira menyerah dan berdoa
Selira pasrah dalam lemah tak berdaya
Dan selira memohon ampunan kepada Sang Pencipta
Ibu... semakin menyesal aku,
....
Seharusnya akulah anakmu, yang berdiri tegak tanpa sesak
Yang runcing melawan keras kehidupan seiring memuncak
Mengubur hina mengumbar bangga, bukan malah menggores laknat!
Bukan aku malah mendawai larat!
Ibu, semakin tertegun saat kubaca halaman itu
Saat terbayang engkau masih bersamaku
Dalam satu ruang yang satu
Hingga tetes kini laksa menoreh azab siksaku
Oleh: Fariz Huzairi, di Jakarta, 25 Februari 2013,
dalam coretan sastra Puisi Cinta Untuk Ibu.
Tertegun ingatan saat kubuka halaman diariku
Ada setitik pahit yang kubaca, saat kuraba, hingga kemudian terpikir masa laluku
sedalam kalbu
Menyeruat, menyulap beringas hinggapkan getir pedih masa kelamku
Namun rintihan melodi kehidupan menawanku dari keterbebasan hasrat
yang tampak nyaris keterbatasan pun melekat, seolah tak lagi berdawai semangat
Kudekap pedih semakin sakit, kutahan rindu pun semakin pilu,
hingga kubiarkan namun rasanya tak sanggup kulewati hari hingga berlalu
Ibu... semakin pedih aku,
....
Kesadaran pun tak merubah selain kehadiran yang masih dicitakan
Kesadaran pun tak merubah selain penyesalan dan pengharapan
Dan kesadaran pun, seperti anjing serigala yang melolong di malam pesta perkawinan
Lantas dalam maya kumencarimu
sepenggal nama yang mungkin dapat kutemukan di sana
yang berharap, sepenggal kabar kurasai sejukan hati meski selama mengingatnya
Hingga pada malam kemudian selira menyerah dan berdoa
Selira pasrah dalam lemah tak berdaya
Dan selira memohon ampunan kepada Sang Pencipta
Ibu... semakin menyesal aku,
....
Seharusnya akulah anakmu, yang berdiri tegak tanpa sesak
Yang runcing melawan keras kehidupan seiring memuncak
Mengubur hina mengumbar bangga, bukan malah menggores laknat!
Bukan aku malah mendawai larat!
Ibu, semakin tertegun saat kubaca halaman itu
Saat terbayang engkau masih bersamaku
Dalam satu ruang yang satu
Hingga tetes kini laksa menoreh azab siksaku
Oleh: Fariz Huzairi, di Jakarta, 25 Februari 2013,
dalam coretan sastra Puisi Cinta Untuk Ibu.
puisinya keren keren,,, kenaa di hatiku, hehehe
BalasHapusPuisi tentang ibu'nya Keren Gan ,, ane jadi keinget ibu ane sendiri :(
BalasHapus