30 Desember 2015

Kesadaran yang Terpejam

Kesadaran yang Terpejam...
Aku hanyalah sebatang pena yang sudah lama tak pernah digunakan lagi. Aku hampir saja mengering, bahkan sebentar lagi, mungkin.
Aku sudah lupa bagaimana caranya merangkai puisi, menguasai hati dan pikiran untuk mengubahnya menjadi inspirasi yang hidup. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menemukan kata yang tepat untuk satu saja keadaanku saat ini, selain hanya mengulang-ulang kata yang sama yang aku lakukan. Kata-kata yang sama, baris demi baris. Seperti air yang tertumpah, bukan tertuang. Seperti gerimis yang sesaat lalu kering, dan gerimis lagi, dan lalu kering lagi.
Inspirasi yang hilang, ataukah semangat yang seakan tak punya lagi kesempatan untuk tumbuh. Musim kemarau berlalu, musim hujan pun tak menentu. Sebaris udara yang kurasa, yang kadang dingin, dan tak jarang pula panas.
Rangkaian hidup terus berjalan, namun tak sempat kusimpan perjalanan itu dalam sebait saja cerita. Sendiri, juga tidak! Ramai namun sepi. Tersenyum namun hati menangis. Bersandar pada ketentuan yang ada. Mencari keberadaan hakiki yang mungkin harus kutemukan: Kesadaran!
read more

10 Maret 2013

Sebelum Larut Malam Menjemputku

SEBELUM LARUT MALAM MENJEMPUTKU

Malam tak mau larut saat kugadaikan mimpi untuk menembusmu ke dalam pelukan. Seperti rindu yang tak juga surut, kau selalu masuk diwaktu sendiriku. Mendesir, bersemilir, bersemayam di dalam batinku. Satu rasa yang selalu kurasa saat getir musim hijau telah mati dan hilang adanya.

Maka kutuang kembali secangkir kenangan untuk menghilangkan kantukku. Secangkir harapan yang telah mati bercampur takdir Tuhan kini. Di lintas khayal dan di pesisir kenangan, disapu ombak(!); di pantai itu kini telah menjadi lautan yang tersapu laksana tsunami waktu itu!

“Inikah musim itu yang tak lagi menentu dan berubah sewaktu-waktu? Kematian beriring kematian dan dosa beriring dosa. Lalu bagai wajah yang tak tahu malu menikam sendi-sendi yang tak berdosa yang telah menilai-memberi harga. Dan apa yang pantas dikata untuk maaf yang tiada guna, jika hari-hari selalu sama baginya, tiada ubahnya?”

“Lain memang, tak mungkin berulang. Takdir mungkin, namun tak pasti selama Tuhan masih memberi. Karena kesempatan hidup memang satu kali, dan bukan mati jika masih bisa diusahakan untuk membenah diri.”

“Sesal memang tiada arti jika dirasai tanpa disesali. Disesali pun tiada ubah jika diri tak mampu untuk merubah. Kuasa memang milik Tuhan namun manusia diberi kesempatan untuk mengusahakan.”

Nasib. Kau kata kadang seolah sudah jalan. Takdir. Kau kata seakan semakin sudah terang. Kau rangkai cerita bak melodi di atas iringan perkusi yang tersembunyi. Kau berlabuh bak terjatuh terluka diri. Kau tikam semua janji dengan akhir tanpa awal. Dan kau lupakan siulan-siulan merdu yang pernah terjadi. Bahkan kau ubah emas menjadi duri!

Cinta, indahnya tak secantik pesonanya...

Namun kan kujaga nasihat-nasihat itu. Meski terpenggal kisah hitam menimpa diri, namun arti bukanlah sebagai penghias diri. Rasa cinta kan tetap ada meski sebatas doa dan penghapus dosa.

Untukmu, sepenggal rindu, sepenggal kawan jiwaku –yang telah lampau sebelum pahit, dan sebelum rasa sakit memisahkan jiwa dan ragaku, kan kujaga doa untuk masa yang tak pernah kita tahu.



Fariz Huzairi, di Jakarta, 10 Maret 2013
read more

09 Maret 2013

Sajak Doa Orang Menyesal

Doa Orang Menyesal

Entah apa lagi yang harus kutuangkan di sini. Secangkir sajak telah sesak penuhi nikmat yang telah melaknat. Aku tak mau habiskan ini. Nikmat-nikmat itu sebagian banyak membuatku harus terlaknati...

Lebur tak lagi satu; sahabat, cinta, dan juga keluarga, entah (aku)... rasanya tak lagi ada. Bagai memuat doa-doa pasrah dalam gelisah nun jauh harap masih ingin terbitkan wajah. Namun aku hanya menepi, dan hanya menepi, berharap kembali jika telah sanggup kuganti mati.

Pisahi diri, aku pikir, sadari yang terjadi. Dari sekian jalan dalam muara penggalannya yang berfase, (meronta-ronta dalam sesal) enggan kubuat kembali ombak duri. Bagiku, cukup sudah bencana menimpa. Aku tak ingin lagi puasi diri dengan amuk birahi.

Cukuplah. Cukuplah saja aku pernah merasanya. Deru haru tak kebalkanku kecuali rindu. Ya, seperti perpisahan yang terjadi, yang terukir sebab kuasa birahi dan lupa diri, serta merta membuatku banyak kehilangan arti.

Namun kini, dimulai kali ini, sudah sepatutnya bak pengajar diri. Melihat! Merasai! Melihat apa yang pernah terjadi! Darah menjadi nanah di hidung hingga kini masih basah: berlumur resah, berikat pasrah, menjadi obat untuk tidak dulu menyerah! Meski hidup memang terlihat tak lagi memimpi mewah, setidaknya masih membentuk diri yang tak lepas bak tak berarwah.

Meski adanya....................
Dunia... Oh, Tuhan! Duniamu inikah juangku(?)
Kuingin Kau katakan, katakan bahwa kesempatan ini masih Kau berikan untukku!


Fariz Huzairi, di Jakarta, 8 Maret 2013
read more