20 Februari 2013

Sebuah Pengantar Kehidupan Besar

Inilah sebuah Anugerah, Sebuah Pengantar Kehidupan Besar!

Kehidupan besar!

Rahasia yang mengagumkan! Ketika setiap anak menyadari apa yang telah dialaminya selama ini(?); atas apa yang telah didapatkannya sejauh ini(?), dan atas apa yang telah diperbuat dan dilakukan serta diusahakannya hingga seusia kini(?); maka untuk apa serta kepada siapa akhir tujuan hidupnya itu diberikan(?).

Inilah kehidupan yang penuh dengan mistik --bagi beberapa orang yang mempercayainya sebagai keajaiban belaka, mistik tidaklah berarti apa-apa selain prasangka dan fanatisme-- di atas moral yang logis dan berlapis kemanusiaan serta ketuhanan yang nyata!

Maka saya mengatakan bahwa kehidupan ini amatlah rasional, tak cukup hanya dengan akal dan logika.

Seperti kehidupan yang sebelumnya saya rasakan yang sangatlah penuh dengan keterbatasan, ternyata memiliki keluasan yang tiada batasnya ketika saya dapat berinteraksi dan berbagi melalui blog ini. Sebuah nikmat yang luar biasa, sebagai karunia dari Sang Pencipta, tiada lain agar kita selalu saling menjaga kehidupan sosial di atas individu sebagai makhluk manusia yang memang tidak memiliki kesempurnaan kecuali dengan cara saling melengkapi demi memenuhi seperangkat kebutuhan dasar untuk melakukan hidup dan terus memahat diri hingga mendapatkan hari esok yang kita inginkan sebaik mungkin: Itulah sekiranya yang menurut saya dinamakan Nilai Sejati!

sastra berduri, sebuah pengantar kehidupan besar
Sastra Berduri, Sebuah Pengantar Kehidupan Besar

Lentera yang terang dan yang terkadang meredup....
Logika yang seringkali dibanggakan oleh seseorang dan sebagian banyak orang ternyata tak membendung akal untuk masuk lebih dalam, yakni melalui rasio yang kita bawa sejak lahir yang ternyata selalu menangkap kesalahan dan kekurangan atas apa yang terlihat sebagai hal yang mengagumkan yang dicipta manusia. Namun sebagaimana kebijaksanaan yang telah Tuhan berikan kepada Manusia terpilih, juga kepada makhluk seluruhnya, bahwa harga dan nilai itu sejatinya adalah untuk dihargai bukan untuk dimunafikkan. Maka itu mustahil jika hasrat tak dapat ditahan, dan jika nurani tak dapat dipergunakan menyertai kesabaran dan kemampuan yang mapan, sebab anak manusia sama dilahirkan dan sama saling bertautan: sebagai rantai kehidupan yang mempertautkan masa yang satu dengan masa berikutnya, antara jaman yang satu dengan jaman selanjutnya, dan antara kehidupan di dunia dengan kehidupan setelah kematian seluruhnya. Inilah Kebijaksanaan Besar: kebijaksanaan untuk saling menghargai, kebijaksanan untuk saling menyadari, serta kebijaksanaan untuk yang tiada pernah mendapat kesempuranaan, di mana hanya jiwa itulah yang tunduk dan patuh pada kekekalan abadi --keabadian atas izin Sang Pemilik kebijaksanaan dan kematian-- baik maupun buruk akhirnya manusia itu.

Dan akhirnya... hanya kepada Sang Penciptalah, penulis tunduk dan mengabdi, seraya memohon pertolongannya agar senantiasa selalu dipertemukan dengan pembaca dan sekawanan manusia yang selalu ingin memperbaiki nilainya tanpa pilih kasih atau membeda-bedakan sesama manusia.



[fariz huzairi] Jakarta, 10 februari 2013
read more

Pengantar Blog Sastra Berduri

Selamat Datang di Blog Sastra Berduri!!!

Inilah saatnya tak hanya jaman yang mengalami perkembangan dan perubahan yang didasari kreatifitas dan inovasi!!! Karena kehidupan baru yang lebih baik dan mapan hanya akan tercipta secara nyata melalui perubahan individu yang mendasar, yaitu Konsep Berpikir.

Lantas, apa yang menjadi kekeliruan pemikiran setiap orang jika dinyatakan bahwa kehidupan baru yang lebih baik dan mapan hanya akan tercipta dengan cara berpikir setiap individu?

Perlu diperhatikan lebih mendalam, bahwa begitu banyak perdagangan yang telah mengalami transaksi dan bahkan sudah dikonsumsi oleh banyak konsumen di negeri ini, bahkan di dunia ini, yang tanpa sadar telah menjadi sekarung nasi di lapar nan dahaganya sendiri. Namun seberapa liter beras yang mereka dapat dari hasil panen ladangnya sendiri? Seberapa gelas air yang didapat dari hasil galian sumur di halaman belakang rumahnya sendiri? Cukupkah mereka menahan hasrat untuk hidup layak sementara kambing dan domba terus melahap pagarnya dengan cara menukarnya dengan sepotong keju dan roti bakar? Dan seberapa berat lagi serta banyaknya beban yang harus ditanggung hari ini dan esok, beserta anak-istri mereka?

Melalui cara inilah: Seni Dalam Berpikir, Berbahasa Dengan Akal, dan Bercengkrama Dengan Sastra Dalam Diri, sehingga pada akhirnya mampu menciptakan peluang yang real untuk menatap dunia modern yang serba saling-menguntungkan ini berjalan dan memperbaikinya dengan unsur keindahan dan kelembutan yang terkandung. Sebab sejatinya, seni tidak pernah menghancurkan selain hanya bertujuan menciptakan keindahan yang tentram dan mendamaikan.


Sastra Berduri, Goresan Pena Klasik Yang Menjerit, sebagai ungkapan bahwa Sang Penulis blog ini cukup antusias untuk menyampaikan beberapa konsep yang perlu untuk dipahami dalam menciptakan nilai seni dalam diri, atau lebih tepatnya untuk mencari nilai seni dalam kehidupan diri setiap pribadi. Namun, ada bebrapa hal yang sebelumnya harus diketahui dan perlu dipahami:


Saya tidak mengklaim siapa diri saya dan dari mana saya berasal. Karena menurut saya, tidak ada batasan untuk merealisasikan suatu pemahaman selama itu tidak mengandung unsur paksaan dalam cara apa pun dan dengan alasan apa pun. Latar belakang yang seringkali menjadi topik permasalahan pun, menurut saya, bukanlah alasan untuk menjadikan atau menciptakan suatu sikap yang membedakan satu sama lain. Yang perlu saya tegaskan adalah, bahwa setiap orang memiliki hak untuk menentukan seperti apa dan apa yang mendasari jalan pemikirannya sekarang atau pun kemudian. "Inilah demokrasi!" Begitu katanya. Maka bersikaplah terbuka dengan segala pemikiran positif dan persepsi yang objektif yang dalam konteks ini tidak sama sekali melibatkan persepsi-persepsi belaka.

Saya, sebagai pemilik dan penulis sebagian banyak/ seluruh isi dalam materi blog ini sebisa mungkin untuk selalu bersikap terbuka, baik dalam menulis maupun menanggapi kritik dan komentar pembaca yang dikirim melalui online maupun offline. Dan oleh karena itu, perlu saya tegaskan kembali, semoga pembaca yang menyadari atau bahkan memiliki pendapat lain agar saling menghargai dan saling membagi pemahaman dengan cara yang sopan dan diskusi yang aman. Namun saya yakin, bahwa sebagian besar pembaca media online memiliki hati yang lapang dan bijak jika ada kekeliruan atau segelintir kata yang menyulap hati Anda maka mohon untuk dibukakan pintu kebijaksanaannya selapang mungkin.


Terima kasih,
Sastra Berduri
sastra berduri indonesia
Pena Sastra Berduri Indonesia
read more